Ticker

6/recent/ticker-posts

Tak Sanggup Melihat Orang Susah Karena Pernah Tak Punya Apa-Apa

 

Oleh : Hasneril SE 

Tidak mampu mendapatkan apa yang kita mau memang  membuat hati terluka. Lebih-lebih diwaktu yang sangat kita butuhkan, rasa sedih yang luar biasa akan terasa apabila yang di inginkan tidak kunjungan ada lebih-lebih urusan perut. 

Kilas balik, beberapa tahun silam saya pernah menulis dimedia cetak dan online  tentang kisah bertemu dengan penjual tisu di Sawah Besar Jakarta yang bernama marfe , yang akhirnya dia memanggilku AYAH.

Namun cerita kali Ini tidak jauh berbeda. Dulu anak  laki-laki. Saat ini seorang perempuan pada Malam Sabtu ( 22/05) tepatnya di depan Bank BNI arah pondok atau dekat Hotel Axana Kota Padang saya bertemu dengan anak perempuan kelas tiga SD.

Diremang malam, anak ini kecil, terlihat kurus pakai kerudung. Sejenak mata saya tertuju lama sekali pada anak kecil tersebut. Posisi saya waktu itu saya sudah duduk di warung pecel lele atau diseberang Bank BNI, hampir 10 menit menunggu lele dimasak, anak tersebut masih terlihat duduk di trotoar, dan ada juga sesosok anak kecil  duduk, kalau dipanggil pasti dia tidak dengar karena suara mobil, saya coba melihat terus ke arah dia, mungkin karena firasat  dia, akhirnya dia mendekati saya, dia bilang  "pak bisa minta uang berapa bapak kasih aja ya pak, saya belum makan pak, ucapnya pelan.

Sebenarnya saya melihat-melihat ke dia itu memang ingin belikan dia nasi karena kasihan melihatnya duduk termenung di kegelapan. Seketika itu saya tanya kamu sudah makan, diapun menjawab, belum pak, setelah itu saya ajak makan dia tidak mau, dia bilang bungkus saja karena ada adik di rumah dan belum makan.

Karena ada adik saya bungkus dua dia tidak. mau, cukup satu aja pak sudah cukup. Saya bilang tidak apa-apa dia tidak mau dengan jawaban terima kasih banyak nanti nasi ini saya bagi sama adek, percakapan antara kamipun berlangsung sebentar saja.

Karena saya duluan pesan  nasi dulu datang, namun tidak tega makan nasi dan lele yang datang. Saya coba tawarkan kembali ke anak itu dia menolak, karena tidak tega makan dekat anak itu saya ajak anak itu cerita-cerita tentang ke hidupannya.

Rupanya dia anak piatu, ibu meninggal ayah tidak pulang-pulang, dia anak pertama, beradik kakak  berdua tinggal sama adik ayah, sekolah SD kelas 3, Adiknya  baru kelas 1 SD, setelah nasinya datang dia mohon pamit dan ucapkan terima kasih namun dia tidak mau dikasih uang.

Mudah-mudahan anak ini kelak menjadi anak yang sholeha, dia bukan anakku tapi melihatnya saya sempat menangis dihadapan orang banyak, karena saya juga pernah merasakan kehidupan seperti yang dialaminya ini.

Beda Kisah dengan marfe yang pernah saya tulis dulu, kalau marfe bisa berdagang tissu kalau ini tidak karena masih kecil, modal hanya sebuah kertas bertulisan "Bantu anak yatim bapak dan ibuk'", dengan usia masih kecil dia bisa menghidupkan adiknya yang masih kecil, lebih kecil dari usia saya hidup dipasar  untuk mencari nafkah untuk adik-adik.

Berbagilah dengan orang lain, kasihanlah saudaramu yang lain ,mudah-mudahan kamu  semua  di mudahkan oleh Allah SWT rezekinya

Post a Comment

0 Comments