Ticker

6/recent/ticker-posts

SDN 03 Bidar Alam Belajar di Ruangan Tidak Layak Pakai , Begini Tanggapan Kepala Sekolah || dutametro


Kadis Pendidikan Novrizon saat meninjau SDN 03 Bidar Alam, didampingi Kepala Sekolah.


Solsel, dutametro.com -- Viral dimedia sosial SDN 03 Bidar Alam, Kecamatan Sangir Jujuan, Kabupaten Solok Selatan (Sumbar) belajar diruang sekolah yang tidak layak dipakai.


Ruang sekolah tersebut tidak terpakai lagi sejak tahun 2018. karena sudah ada bangunan baru, yang sudah lengkap dan layak di pakai untuk proses belajar menggajar.


Hanya saja disaat pandemi ini, aturan pembelajaran tatap muka yang mewajibkan 50% siswa berada dikelas, maka sekolah kekurangan lokal.


Karena ingin megejar ketertinggalan dan mengejar mutu, dan kurangnya lokal di lokasi baru, makanya dipakai ruang sekolah lama yang sudah di buka dindingnya.


Mendapat informasi Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olah Raga Novrizon langsung turun kelokasi mengadakan pertemuan dengan unsur terkait, Rabu (27/1/2021).


Turut hadir kadisdik Novrizon, Kabid Inventarisasi Aset DPPKAD Joni Pardison kepala UPT Rahman, Kepala Sekolah Baharuddin, ketua Komite, dan Pengawas sekolah Darnison,


Sengaja kami kumpulkan unsur terkait disekolah ini. untuk mencarikan solusi permasalahan kekurangan lokal di sekolah ini.


"Kita akan prioritaskan kembali pembangunan sekolah tersebut dengan anggaran yang ada," ucap Novrizon.

 

Baharuddin mengungkapkan Saya masuk disekolah ini tahun 2017. pembangunan gedung sekolah baru tahun 2007, semenjak itu sekolah tidak lagi mendapatkan bantuan bantuan apapun.


Pihak sekolah sudah berkali kali meminta penghapusan aset yang lama, tahun 2019 juga kami antarkan lagi surat penghapusan aset, tetapi belum juga ada persetujuan dari pemerintah daerah.


Ditahun 2020 sudah keluar SKnya sebagai penerima bantuan RKB, disayangkan SK untuk SD 03 hilang dan gagal dapat bantuan RKB.


Saya selaku kepala sekolah putra asli selalu diejek masyarakat.


"Sudah putra asli daerah yang memimpim, SDN 03 tak juga ada kemajuan," kesalnya meniru cemoohan masyrakat.


Kami berharap karena ruang belajar SD 03 cuma delapan ruangan, untuk kedepan agar bisa ditambah lagi, setidaknya dua ruangan lagi.


Untuk merobohkan aset yang lama ini pihak sekolah tidak memiliki anggaran, bagaimana pemda mencarikan jalan keluarnya.


Kabid Inventaris Aset DPPKAD Solok Selatan Joni Pardino dalam pemaparanya mengatakan. Kebijakan aset itu adalah bidang aset, semua aset sejak mekarnya Solok Selatan ini lengkap datanya dibagian aset.


Namun untuk sistim penghapusan aset tidak semudah membongkar bangunan  sebuah rumah, harus ada prosedur dan persetujuan kepala daerah.


Sekolah SD 03 Bidar Alam ini hanya kurang perawatan saja, sebenarnya ruangan lama sekolah ini masih bisa dipakai digunakan untuk kegiatan pendidikan lainya.


Sistim penghapusan aset ada beberapa item, Bencana, kebakaran, longsor dan untuk penghapusam aset itu harus ada pengantinya.


"Banyak prosedur yang harus dilalui untuk penghapusan aset," tegas Joni


Dari hasil pertemuan itu didapat kesepakatan bahwa pihak sekolah menunggu persetujuan kepala daerah (Bupati) dan pihak pemda akan memperhatikan kebutuhan sekolah seperti usulan dua bangunan RKB lagi. (Met)

Post a Comment

1 Comments

  1. Bidar Alam – Terima Kasih Kami Ucapkan Kepada Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan olahraga Solok Selatan, dan Kabid Inventarisasi Aset DPPKAD Solok selatan, Koordinator UPTW, dan Pengawas Sekolah Kecamatan Sangir Jujuan yang telah bersedia turun langsung meninjau ke lokasi “Kelas Tak Layak Pakai” SDN 03 Bidar Alam Kec. Sangir Jujuan, Rabu (27/1/2021). Dan tidak lupa pula Kami ucapkan terima kasih kepada Insan Pers yang telah bersedia meliput “Cerita Kelas Tak Layak Pakai” ini.

    Namun, Perlu Rasanya Kami luruskan beberapa berita yang dimuat di Media Online Fajar Sumbar dan Duta Metro, Rabu (27/1/2021).

    “Bangunan baru” yang berada di belakang bangunan lama tersebut, dibangun tahun 2007/2008 sebanyak dua lantai dan terdiri dari enam ruangan atau lokal. Namun masih ada sebagian bangunan yang perlu “lanjutan” pembangunannya, seperti: Lantai yang berada di lantai dua, Plasteran Dinding Samping Kanan, Kiri dan Belakang, Loteng juga berada di lantai dua, dan beberapa lanjutan pembangunan lainnya.

    “Bangunan lama” tersebut setahu Kami terakhir direhap tahun 1996 sewaktu masa transisi peralihan Kepala Sekolah antara Almarhumah Hj. Nurlaili dengan Bapak Irjal, yang Pelaksana Harian Kepala Sekolah waktu itu dijabat oleh Ibu Murnis.

    Jadi, bangunan lama itu bukan “dibuka dindingnya”, tetapi sudah roboh dimakan usia.

    Pada Saat Pandemi Ini, Kami Pihak Sekolah “Bukan Ingin Mengejar Ketertinggalan dan Mengejar Mutu”. Tetapi “Memang Kenyataan Kami Hanya Punya Enam Ruangan Kelas Yang Layak Huni”. Sedangkan Sekolah Kami Saat Ini Mempunyai Delapan Rombel (Rombongan Belajar) yang terdiri dari: Kelas 1 dua rombel, Kelas 2 satu rombel, Kelas 3 satu rombel, Kelas 4 dua rombel, Kelas 5 satu rombel dan Kelas 6 satu rombel.

    Oleh Karena itu, Dengan Terpaksa Kami Berdayakan Ruangan atau Lokal yang Berada di Gedung Lama Tersebut.

    “Kami Pihak Sekolah Paham Dimasa Pandemi Ini Tidak Dituntut Menyampaikan Target Kurikulum, Hanya Menyampaikan Materi-Materi Esensial Saja Kepada Siswa”. Kami Tekankan Sekali Lagi, Kami Pihak Sekolah Tidak Mengejar Ketertinggalan dan Mengejar Mutu. Tetapi Memang Kenyataan, Kami Mempunyai Rombel Delapan, Sedangkan Lokal Hanya Enam. Maka Dengan Itu, untuk Dua Rombel Lagi Kami Berdayakan Ruangan yang Ada (Gedung Lama).
    Ttd
    Kepala sekolah







    ReplyDelete