Ticker

6/recent/ticker-posts

Perlu Petimbangan Akal Sehat Dalam Memilih Pemimpin dan berpolitik





Oleh : Ir. Abdul Aziz, MM


Situasi kehidupan politik yang semakin tidak jelas, perseteruan antar partai dan kelompok semakin menggambarkan ketidak pastian arah gerakan kehidupan politik. Kehidupan politik hanya berpedoman kepada bagaimana menjalankan kepentingan kelompok penguasa agar partai bisa diikutkan dalam system pemerintahan. Dengan keikut sertaan dalam system pemerintahan berarti sudah bisa ikut berkuasa. Tindakan dan kegiatan sebagai penguasa baru harus mengikuti dan sesuai dengan instruksi para kelompok penguasa yang sudah lebih dulu berkuasa. Kepentingan rakyat hanya slogan dan wacana yang yang di gadang-gadang ketika berjuang dalam mencari jalan untuk bisa jadi penguasa.

Begitulah cara-cara yang dilakukan oleh para penguasa saat ini agar kekuasaan bisa tumbuh dan tetap bisa dipergahankan. Nepotisme yang sangat tidak disukai dalam berdemokrasi, sekarang tumbuh subur dihati para kelompok pencari kekuasaan, sepertinya tujuan hidup ini hanyalah untuk bisa berkuasa, dan setelah itu.....? ya terserah...., suka-suka.

Kenyataan ini bisa dilihat dari misalnya, ketika seseorang untuk mencalonkan dirisebagai calon sebagai kepala pemerintahan seperti Wali Kota, Bupati, Gubernur dan seterusnya, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Bahkan begitu besarnya dana yang digelontorkan sehingga sangat tidak masuk akal darimana sang calon bisa mengembalikan modalnya setelah berkuasa nanti, mengingat penghasilan yang diterima setelah bekuasa nanti tidaklah seimbang dengan dana yang sudah digelontorkan. Kondisi inilah yang salah satu embrio yang akan menjadi landasan tercetusnya ide-ide buruk para penguasa.

Kenyataan lain yang tidak jarang ditemui adalah bahwa para penguasa tidak segan-segan menempatkan orang-orangnya dalam system pemerintahan dalam upaya mempertahankan kekuasaanya, tanpa melihat kemampuan dalam kepemimpinan, latar belakang pendidikan dan bahkan usia. Lebih ironis lagi, yang ditempatkan tidak hanya teman sepaham, tapi juga adik atau kakak bahkan anak kandung dan menantupun bisa dipaksanakan untuk mengisi jabatan penting tertentu dalam pemerintahan atau pusat-pusat kekuasaan tertentu.

Bukankah seorang calon penguasa harus memiliki kemampuan dalam memimpin, memiliki moral yang baik, memiliki pemahaman terhadap ideologi, politik, budaya dan agama yang dalam. Paham terhadap kehidupan dalam bermasayarakat dan apa yang terjadi dalam masyarakat, karena seorang penguasa akan menjadi panutan dalam segala hal. Akan menjadi “tampek batanyo dan babarito”, orang yang akan “di sambah dan di anjuang tinggi sarato diamba gadang”

Masihkan kita ingat, seorang sahabat Rasulullah yang bernama Miqdad ? Dia mempunyai pikiran cemerlang dan hati tulus. Semua itu tercermin pada ucapan berbobit dan prinsip-prinsip hidup yang lurus. Namun beliau menolak ketika diminta kembali oleh Rasulullah untuk menjadi Amir dengan alasan hanya takut diliputi kemegahan dan puji-pujian yang dianggap dapat melemahkan keampuannya dalam memimpin.

Perubahan sudah tidak terhindarkan lagi, begitu juga dunia kepemimpinan. Saat ini dibutuhkan karakter kepemimpinan yang berbeda dengan sebelumnya. Setidaknya dibutuhkan beberapa karakter kepemimpinan moderen agar seorang pemimpin layak dicalonkan sebagai seorang pemimpin (CEO Kubik Leadership Jamil Azzaini, 17/12/2017)

Pertama, Angile ; bukan hanya sekedar lincah atau tangkas tapi juga cepat, kuat dan berani. Pemimpin zaman now, harus memiliki ambiguity acceptance, bersedia dengan lapang dada menerima ketidakjelasan, kemudian mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih sempurna. Secara terus menerus mampu melakukan perbaikan bahkan tidak segan-segan melakukan perubahan mendasar.

Kedua, Digital Mindset ; penguasaan digital leadership untuk mampu melakukan inisiatif pengembangan teknologi menjadi sesuatu yang memiliki value tinggi. Disamping itu, perlu memiliki kemampuan digital dan sudah harus berani melibatkan generasi milenial sebagai “penduduk asli” dunia digital dalam pengambilan keputusan strategis.

Ketiga, Kolabiratif ; saling tergantung, saling menciptakan keuntungan, kalau bahasa old generation dulu, win win solution. Untuk menghasilkan sesuatu yang baru, diperlukan keterlibatan pihak lain yang memiliki kelebihan berbeda.

Tidak berlebinan, jika seorang ingin maju sebagai calon pemimpin yang saat ini harus melewati dukungan partai politik, untuk mengukur diri apakah sudah memiliki kemampuan dalam memimpin atau belum. Demikian juga kepada calon pengusung dan penguasa, jangan memilih dan menempatkan para calon pemimpin yang belum memiliki derajat atau tingkat kepemimpinan yang memadai. Pertimbangan akal sehat sangat diperlukan, jangan hanya mengedepankan emosi dan kepentingan sesaat. Bangsa ini membutuhkan pemimpin masa depan yang lebih berkarakter dan berakal sehat untuk bisa menerobos persaingan di era digital untuk keluar menuju kesuksesan.

Post a Comment

0 Comments