Ticker

6/recent/ticker-posts

Sejarah Singkat Asal Mula Kota Padang



by,rizal/al hagi


Padang adalah nama kota. Suatu kota yang sudah dikenal sejak lama. Nama Padang, sebagai suatu nama tempat sudah diberitakan dalam surat kabar tahun 1744 (lihat Amsterdamse courant, 11-02-1744). Sejak itu, nama Padang kerap muncul dan nama itu tidak pernah berubah hingga kini


Kota Padang, bukanlah kota kuno. Kota Padang adalah kota baru. Dalam peta-peta kuno, nama Padang sebagai kota tidak dikenal (belum teridentifikasi). Dalam peta paling kuno tahun 1619 nama Padang sebagai kota penting di Pantai Barat Sumatra belum teridentifikasi. Nama Padang baru teridentifikasi dalam peta yang lebih baru (1752). Dalam peta tahun 1752 dua nama tempat yang diidentifikasi sebagai kota utama adalah Indrapoera (di barat) dan Indragiri (timur). Padang belum menjadi kota utama.


Dengan demikian nama Padang di dalam peta muncul sebagai nama kota antara tahun 1619 dan 1752. Oleh karena, nama Padang sudah disebutkan di dalam surat kabar pada tahun 1744 sebagai pelabuhan, sudah barang tentu nama  Padang sudah disebut jauh sebelumnya.

Aktivitas perdagangan Belanda (VOC) di Pantai Barat Sumatra dibagi ke dalam empat periode (lihat De Westkust en Miangkabau 1665-1668 door Hendrik Kroeskamp, 1931). Sejarah Pantai Barat Sumatra pada periode pertama dimana VOC hanya melakukan perdagangan secara longgar dan terbatas hubungan dengan komunitas di sekitar pantai, sampai sekitar 1615. Periode kedua, dimana Pantai Barat Sumatra diperluas menjadi bagian perdagangan VOC, sampai sekitar 1663; periode ketiga, dimana penduduk Pantai Barat Sumatra sebagai sekutu VOC, sampai dengan 1666; dan periode keempat, penduduk Pantai Barat Sumatra sebagai subyek VOC.




Pada periode ketiga inilah Kota Padang dimana terdapat hubungan antara Belanda (VOC) dan penduduk. Sebagai tindak lanjut hubungan itu adalah pada tahun 1666 Belanda berhasil mengusir Atjeh ditempat yang kemudian dikenal sebagai kota Padang  (lihat Groninger courant, 14-12-1824). Saat itu Kerajaan Atjeh menguasai pos perdagangan di bagian utara Sumatra, seperti Hooftstad (Atjeh), Pedir, Pacem, Dely, Daya, Labou, Cirkel, Barros, Batahan, Paffaman, Ticou, Priaman en Padang (lihat De nieuwe reisiger; of Beschryving van de oude en nieuwe waerelt…door De La Porte, 1766). Namun dalam berbagai literature, nama tempat dimana VOC membuka pos perdagangan tidak menyebut nama Padang (baru disebut Padang kemudian). Akan tetapi nama yang sering muncul adalah Moearo.


Sebagaimana diketahui, Padang sempat ditinggalkan karena tidak aman, lalu diambil alih oleh Inggris. Padang saat itu belum dianggap sebagai kota (pos perdagangan) penting, bahkan Air Bangis masih lebih penting sebagaimana terindikasi dalam berita Leydse courant, 04-05-1764: ‘pemerintah VOC menempatkan Residen di (pulau) Chinco, Air Bangies dan Barros..sedangkan di Padang hanya menempatkan administrator tingkat dua..’. Sangat logis bahwa penempatan administratur di Padang (1764) dan berita keberadaan pelabuhan Padang (1744). Artinya, paling tidak ada waktu 20 tahun antara waktu dimana tahun 1744 Padang sudah dianggap penting secara ekonomis (perdagangan) dan tahun 1764 ketika (pemerintahan) VOC menganggap sudah waktunya melakukan penempatan pegawai di Padang.


Keberadaan nama Padang sebagai nama sebuah tempat berdasarkan informasi pedagang Tionghoa di Angkola paling tidak telah dikenal pada tahun 1701. Dengan kata lain, nama Padang sebagai nama tempat diduga muncul paling tidak antara tahun 1666 dan tahun 1701. Periode waktu ini (1666-1701) konsentrasi VOC (Belanda) tengah berada di Celebes (baca: Sulawesi) dalam Perang Gowa. Setelah pasukan Aroe Palaka ikut dalam pembebasan pengaruh Atjeh membantu pasukan Poolman di muara sungai Batang Araoe (1666) langsung bergabung dengan pasukan Speelman dan berhasil melumpuhkan Kerajaan Gowa (1667-1669).


#Penduduk 


Dalam tambo Minangkabau Padang disebut sebagai daerah rantau. Orang yang pertama kali datang berasal Kubung XIII Solok oleh Luhak Nan Tigo (Agam, Tanah Datar dan Limo Puluh Kota). Namun ketika mereka sampai telah ada juga penduduk asli yang tidak beberapa orang, yang mereka sebut dengan orang-orang Rupit dan Tirau.

Terdapat juga orang2 yang datang dari Aceh Nias, Tapanuli, Barus dan Mentawai 


Didalam Tambo juga disebutkam kawasan kota ini dahulunya merupakan bagian dari kawasan rantau yang didirikan oleh para perantau Minangkabau dari Dataran Tinggi Minangkabau (darek). Tempat permukiman pertama mereka adalah perkampungan di pinggiran selatan Batang Arau di tempat yang sekarang bernama Seberang Padang.Kampung-kampang baru kemudian dibuka ke arah utara permukiman awal tersebut, yang semuanya termasuk Kenagarian Padang dalam adat Nan Dalapan Suku; yaitu :

°suku Sumagek (Chaniago Sumagek), °Mandaliko (Chaniago Mandaliko), 

°Panyalai (Chaniago Panyalai), 

°Jambak dari Kelarasan Bodhi-Chaniago, °Sikumbang (Tanjung Sikumbang), 

°Balai Mansiang (Tanjung Balai-Mansiang), °Koto (Tanjung Piliang),

° Malayu dari Kelarasan Koto-Piliang.

 Terdapat pula pendatang dari rantau pesisir lainnya, yaitu dari Painan, Pasaman, dan Tarusan


Seperti kawasan rantau Minangkabau lainnya, pada awalnya kawasan sepanjang pesisir barat Sumatra berada di bawah pengaruh Kerajaan Pagaruyung. Namun, pada awal abad ke-17 kawasan ini telah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

Kehadiran bangsa asing di Kota Padang diawali dengan kunjungan pelaut Inggris pada tahun 1649. Kota ini kemudian mulai berkembang sejak kehadiran bangsa Belanda di bawah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1663, yang diiringi dengan migrasi penduduk Minangkabau dari kawasan luhak.


Sumber : Pustaha Depok/ dutametro

Pic : google

Post a Comment

0 Comments