Ticker

6/recent/ticker-posts

DPMDP2KB Kabupaten Kepulauan Mentawai Latih 24 Kader Posyandu Tentang Stunting | dutametro




Sikakap,-dutametro.com.--Sebanyak 24 Kader Posyandu di Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai mendapatkan pelatihan Stunting dan cara mengisi laporan bulan kader posyandu dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DPMDP2KB) Kabupaten Kepulauan Mentawai.


Kegiatan dilakukan di aula pertemuan Syahbandar Sikakap, Rabu, 27 Agustus.


Camat Sikakap Fransiskus Sakaletuk, mengatakan, ke 24 Kader Posyandu yang ikut pelatihan sekarang hendaknya menjadi perpanjangan tangan DPMDP2KB Kabupaten Kepulauan di tingkat dusun dan desa,ilmu yang didapatkan hendaknya disampaikan kepada petugas posyandu yang tidak hadir pada hari ini,katanya.


Arnold Saragi Napitu, kepala bidang Pemberdayaan masyarakat dan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DPMDP2KB, Kabupaten Kepulauan Mentawai,  menyebutkan, Stunting kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya, Stunting baru nampak setelah berumur 2 tahun, sekarang sebanyak 24 Kader Posyandu se Kecamatan Sikakap kita beri pelatihan Stunting dan cara mengisi laporan kader posyandu tiap bulan.


kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, tetapi Stunting baru nampak setelah anak berumur 2 tahun.


Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan dibandingkan atau tinggi badan menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Grawth Reference Study).


Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan sel otak pada anak normal dan stunted.


Penanganan Stunting dapat dilakukan dengan cara intervensi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung kurang gizi dan penyakit lebih banyak dikerjakan oleh bidang kesehatan, sebagai interpensi jangka pendek.


Intervensi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung supaya kecukupan pangan dan tidak terjadi infeksi. Dilakukan semua pihak diluar bidang kesehatan, sebagai interpensi jangka panjang, katanya.


Doni Kasnaidi, tenaga ahli pendampingan desa bidang pelayanan sosial dasar Kabupaten Kepulauan Mentawai, mengatakan, tsunting dimulai dari 1000 hari pertama kehidupan ini merupakan periode emas bagi perkembangan otak anak, di hitung masa sejak dalam kandungan hingga berusia 2 tahun.


Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan salah satu lembaga kemasyarakatan desa yang diatur oleh peraturan Desa (Perdes) dengan memberdayakan masyarakat dalam rangka melakukan melakukan pelayanan kepada masyarakat dengan fokus pada kesehatan ibu dan anak.


Kader posyandu dananya diambil dari Alokasi Dana Desa (ADD), posyandu menjadi ujung tombak intervensi Stunting.


Tugas kader posyandu H-1 buka posyandu menyiapkan alat dan bahan, mengundang masyarakat, menghubungi dan memastikan kehadiran petugas, dan melakukan pembagian tugas untuk posyandu.


H buka posyandu kader posyandu jumlahnya 5 orang. Setiap kader posyandu duduk disetiap meja yang telah disediakan sebanyak 5 meja, meja pertama pendaftaran, meja kedua penimbangan, meja ketiga pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS), meja keempat penyuluhan, meja kelima pelayanan kesehatan seperti imunisasi, KB, suplemen dan sebagainya.


H+1 Buka Posyandu. Menilai hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan bulan berikutnya, penyuluhan kelompok orang tua balita yang berdekatan, dan melakukan kunjungan kerumah.


Penyebab Stunting kurang pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamiy. Banyaknya anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI eksklusif, 2 dari 3 anak usia 6 sampai 24 bulan tidak menerima MP-ASI peran posyandu melakukan Penyuluhan dan pendampingan kelas ibu hamil dan ibu menyusui, ungkapnya.sl

Post a Comment

0 Comments