Ticker

6/recent/ticker-posts

Asal Usul Adat Parpateh | dutametro




dutametro.com.-Shih lih foh chi, adalah kerajaan sriwijaya,Pada masa itu,Perniagaan antara shiI lih foh chih dengan Cantown telah dimulakan Orang-Orang Dinasti Han, suku Zhuang, yang terusir keluar Tembok China.Mereka  antara Tahun 900 ke 1200 M berniaga ke Shilih foh chih dengan memiliki kebiasaan berpakaianj hitam-hitam. Kaum Urban itu berkembang  ke  Nanning, sebuah desa di China selatan.

Exodus Orang Nanning menjalar ke teluk Benggala menuju Morro dan menetap di Tanah Merah.( Pattani). Exodus yang sama juga berlayar ke sih lih foh chih dengan membuat pemukiman baru dengan nama  yang sama, Tanah Merah  di bagian Selatan sungai Kampar.(Sumatera).

Sebelum kembali ke Cantown, sambil menunggu musim angin untuk berlayar, mereka telah masuk ke pedalaman Minangkabau. Mereka membawa barang dagangan berupa teksil dan keperluan lain dengan memasukkan barang dagangannya ke dalam Guci-Guci tembikar..Guci ini adalah gentong-air yang sebelumnya  digunakan untuk air bersih sepanjang perjalanan dari cantown ke Shih lih foh chi. Orang-Orang Hand yang disebut Cheti, berniaga dari peisir timur Sumatera ke pedalaman membawa teksil dan perlengkapan lainnya dari China, dan dari pedalaman sumatera membawa rempah dan emas. Ketika itu, Puar Datar adalah pusat pencarian emas, yang dikenal dengan nama Gunung Emas. Mbonang adalah pusat pemerintahan adatnya di bawah payung Bunga Setangkai.

Guci serupa dapat di temui berserakan di sepanjang jalur perniagaan di pedalaman Sumatera sebagai peninggalan Han dinasti.Orang-orang Han yang berniaga itu, juga beasimilasi dengan orang tempatan di sepanjang perjalanan pedalaman sumatera. Orang-orang ini, disebut Orang Gucci. Pimpinan kelompok pedagang ini disebut Cheti ( Saudagar). Orang Gucci, dengan pakaian khas Hitam-hitam itu menjadi soko guru dari tiga pilar warna Kebesaran di Minangkabau sampai saat ini.



Cheti yang terkenal di Minangkabau, adalah Cheti (Bilang Pandai) adalah Ayah Datuk Perpateh Nan sebatang. Seorang pencetus keselarasan adat Perpateh yang legendaris.Cheti yang dimaksud, berpangkat sebagai seorang Patih ( setingkat mentri Besar) pada masa kedaulatan Bungo Setangkai di Hulu Kampar yang berpusat di Mbonang Koto Laweh. ( lihat Tambo Puar Datar).Pada ketika itu, bernama sungai Naning.Sungai, dalam arti jalan orang-orang Gucci menuju mbonang dari hulu sungai Kampar untuk naik ke darat dan pedalaman.

Dari tepi sungai di Hulu Kampar ke pedalaman Minangkabau menggunakan Kuda Beban.Sejenis alat angkut tradisional yang masih di dapati di beberapa bagian desa tertinggal di Sumatera Barat sampai saat ini.Mereka  dalam masa yang lama juga berasimilasi dengan sisa-sisa wangsa Saylendra yang tersingkir keluar Sihlih foh chi karena penggantian kekuasaan antara wangsa Syailendara dan wangsa Sanjaya di selatan. Pemimpin Wangsa Syailendra terakhir yang diketahui bernama Chandra Banhu, Nama lain raja Sri Indra Varman ke VI.

Sejarah menyebutkan bahwa Raja Indravarman ke VI berekpansi ke Kedah (Semenanjung Melaya) dan berusaha menaklukkan srilngka, Dalam perjalanan demikianlah, antara tahun 1100-1200 M telah terjadi asimilasi antara Wangsa Syailendra dengan orang tempatan di semenanjung Malaya, tepatnya pelabuhan Melaka .Mereka mendirikan pemukiman yang sama bernama Nanning.

Di dalam Sumber-sumber Lisan di Naning ( Melaka) dapat diketahui bahwa Wilayah adat Perpateh di Nanning -Melaka di teruka oleh seorang penghulu dari Sumatera ( Tanah adat) Namanya Datuk Perpateh Pinang Sebatang ( Turunan Datok Perpateh Nan sebatang) dari tanah Minangkabau. Datok Perpateh Pinang Sebatang dimaksud adalah orang yang sama dengan pemegang Sako dari Datuk Perpateh Nan Sebatang – Dengan jabatan adat sebagai Tiang Balai, di Balai Nan Panjang Mbonang Koto laweh, Kabupatenh 50 kota.

Siapakah Datok Perpateh Nan Sebatang ini ?.

Untuk memahaminya perlu lebih dahulu di semak bahwa; Ketika Chandra Banhu gagal menaklukkan srilangka ia kembali ke teluk Benggala,ia menitipkan seorang anak bernama Indra Kepada Bikhsu di Kuil Ayuthaya, Thailand.  Anaknya ini dititipkan kepada Biksu untuk di semedikan dan pada waktunya dikembalikan untuk berkuasa ke Sumatra. Tetapi Chandra Banhu meninggal di Teluk Benggala dan namanya diabadikan sebagai sebuah nama Kota, yakni Nakon Sritramarat dan keluarga yang di tinggalkannya menetap dan berkembang di desa Roesoe, Pattani. Sementara  anak yang dititipkannya ke Kuil Ayuthaya telah pergi ke Sumatera bersamaan kedatangan Raja Sri Aditya dalam tahun 1223 M yang membina Chedi  di Muara Takus , ia telah sampai di Hulu Kampar dengan memakai gelar Maharaja Indra.

Gelar Maharaja Indra, dikenal kemudian secara turun temurun di Mbonang Koto Laweh sebagai Penghulu Empat Ninik yang tertua, di Hulu Kampar dengan Bukti Batu Megalith ( Batu Persumpahan) di Kg Penago Mbonang



Yang dimaksud Ninik Yang berempat di Hulu Kampar adalah;


1.      Mararajo Indo (Majo Indo/  Maharaja Indra) di Koto Loweh Limbanang. (Balai Nan Panjang)


2.      Siri Marajo ( Sri Maharaja) di Kampun Kampai-Mungka ( Koto Tuo-Balai Nan tuo)


3.      Bandaharo ( Bendahara) di Kampung Piliang-Pijombann Aur Duri-Mahat


4.      Rajo Di Balai ( Raja di Balai) di Kampung Domo Muara Takus-Talago Undang –Balai Tanah Marabau


Ketika itu, Naning di melaka disebut Ujung tanah – Alor Gajah.( Alur = tempat lalu Gajah) secara harafiah dapat diartikan ketika itu disana adalah tanah padang tempat laluan rombongan Gajah.

Batu persumpahan Empat Ninik yang ada di atas tanah Penago, Mbonang..menjadi Bukti Ikrar pertama persumpahan empat orang Ninik, sebagai bermulanya adat dengan sistim Musyawarah yang disebut Perpateh, Orang besarnya adalah Orang Gucci yang berperan sebagai Patih ( Datuk Perpatih Nan sebatang) .Perkembangan selanjutnya Di dalam sistim adat di Hulu Kampar, Maka Datuk Perpateh Nan Sebatang di angkat sebagai salah satu TIANG BALAI, dari 24 Tiang Balai yang ada dalam Balai Nan Panjang –Koto Laweh.Mbonang.


Dari uraian ini dapat dijelaskan bahwa, dalam sistim Adat di Limbanang Koto Laweh yang dahulu adalah pusat kekuasaan Bunga Setangkai, terdapat 24 buah Mukim.Setiap Mukim (kampong)  dipimpin oleh seorang penghulu Mukim ( kampong).Setiap penghulu Kampong langsung menjadi Tiang Balai, di Balai Nan Panjang Mbonang.Salah satu dari Tiang Balai itu, adalah Datuk Perpateh Nan Sebatang, dari kaum ( Kampong Chaniago) Limbonang Koto Laweh .

Dari 24 buah Mukim ( kampong) di Limbanang koto Laweh, terbentuk 4 Suku dengan 8 Nogori  di dalamnya. Setiap Nogori di pimpin Oleh seorang Penghulu Nogori. Nogori-nogori itu adalah;

1.      Kampung Mandahiling di Pimpin Datuk Tamtamo

2.      Kampung Melayu-dipimpin Datuk Rajo Johor

3.      Kampung Koto Anya-koto Bunta-dipimpin Datuk Bandaro Gomuk

4.      Kampung Koto Anya-Koto Panjang-Dipimpin Datuk Bacupak Omeh

5.      Kampung Singkuang-Dipimpin Datuk Bandaro Panjang

6.      Kampung Chaniago-( meliputi Simelenggang-Mungka dan tigo Batu) Dipimpin Datuk Rang Kayo Besar

7.      Kampung Pisang- Di pimpin Datuk Rajo Marajo

8.      Kampung Paga Cancang-Dipimpin Datuk Bandaro Lepai


BALAI NAN PANJANG DILENGKAPI DENGAN STRUKTUR PANGLIMA ADAT SERAMAI 3 ORANG yaitu;

1.      Raja Lelo

2.      Kulang Kencong

3.      Mambang di awan

Ketiga orang ini merupakan Panglima dan Hulu

Balang Adat di Balai Nan Panjang Mbonang,                                                              

sekaligus merupakan Penghulu teritorial dalam

 wilayah adat di Hulu Kampar dan berfungsi sebagai

Juru Adat di Hulu Kampar – Koto Laweh meliputi;

1.      Balai Batu Paranginan-Koto Tengah-Bukit Barisan

2.      Balai Godang – Puar Datar dan Koto Tinggi

3.      Ranah Luhak 50 Koto. Termasuk wilayah adat  Rajo Nan Balimo ( Rajo Mufakat) ;

·        Datuk Bandaro Hitam di Guguk –Talago Ganting

·        Datuk Rajo Simagayuah di Si Tujuh Bandar Dalam

·        Rajo di Luak Air Tabik Rajo di Sitanang Muaro Lakin( Balai Jering)-( Balai Gobah) – (Balai Kt.Panjang)

·        Datuk Permata Alam Putih di Koto Nan Gadang (Payakumbuh)


Di dalam Tambo Minangkabau disebutkan bahwa Wilayah Adat Minangkabau meliputi antara lain, bermula dari Sikilang Air Bangis sampai ke Pucuk Jambi Sembilan Lurah...dst...sampai ke Patani Tapak Tuan. Dalam hal ini, Pattani ada salam negara Thailan sekarang, disana masih ada 50 kepala Keluarga yang mengaku bersal dari Tanah Minang sampai sekarang.Dan nhubungannya dengan Tapak Tuan (Aceh) Mnyiratkan hubungan keturunan dengan Kerajaan Samudra Pasai dan Sultan Alif Chalifatullah). Di Melaka Malaysia, tepatnya Naning dan Alor Gajah, ketika itu disebut Ujung Tanah Minangkabau- justru masyarakat disana mengetahui betul asal usul mereka berasal dari Hulu Kampar dengan di tandai nama sukunya bersal dari Kampong Simelenggang, Mungkal dan Tigo Batu. Yang amat terang benderang adalah Orang suku Chaniago yang berasal muasal dari Balai Nan Panjang koto Loweh di bawah pimpinan Datuk Rangkayo Besar-Limbanang Koto loweh.

Seperti umumnya adat kebiasaan Orang Chaniago, maka sistim musyawarah dan Mufakat yang teradatkan adalah sistim berkampong. Setiap Kampong akan mewakilkan satu penghulu Mukim dan di dalam sistim musyawarah di dalam Balai adat ia akan berfungsi sebagai Tiang Balai. Adat kebiasaan ini juga dilaksanakan di Balai Nan Panjang-Naning-Melaka, sama bentuk dan cara yang digunakan dengan yang berlaku di tanah asalnya, Mbonang.


Dalam Hal keturunan Datuk Perpateh Nan Sebatang di Naning Melaka, adalah Pemegang sako Datuk Perpateh Sebatang dari Tiang Balai Mbonang Koto Laweh, dan di dalam adat disebut Pemegang Sako Adat Gadang Manyimpang. Bahwa di bawah Panji Datuk Perpateh Nan Sebatang, tumbuhlah Sako-Sako Andiko Datuk Patih yang beroleh Mandat dari Balai Nan Panjang Mbonang-Koto Laweh-yang disebut sebagai Bulakan bertalago-Talago Berhiliran. Maka Balai Nan Panjang di simpang empat – wilayah Adat Perpateh di Melaka adalah Hiliran dari Balai Nan Panjang Mbonang Koto Laweh, dibawah kaum Chaniago ( perpateh) dalam genggaman Datuk Rangkayo Besar sebagai pemimpin kaum Chaniago di Hulu Kampar.Itulah sebabnya, Balai Adat di Naning melaka disebut Juga Balai Nan Panjang dan secara simultan menjalankan sistim Adat Yang sama dengan yang ada di Balai Nan Panjang Mbonang Koto Laweh, yakni memakai sistim Musyawarah Mufakat dan Perlembagaan yang terdiri dari Tiang Balai.Kaum migran yang menuju semenanjung Melaya ketika itu bermukim sekitar muara sungai Linggi dengan konsep kehidupan yuang hampir sama dari tempat asalnya. Bila di sumatera mencari emas, maka di melaka membuat perlombongan Timah.

Sistim musyawarah mufakat inilah yang menentukan diiftirafnya seorang pemimpin/penghulu dalam satu wilayah adat.Di dalam sistim adat Perpateh ini TIDAK DIKENAL SISTIM MONARKI ( SITIM ADAT BERAJA-RAJA).Dalam kisah Datuk Perpateh Nan Sebatang tersirat hubungan ke tanah Semenanjung ini, yakni ketika Perpateh Nan sebatang pergi Ke Rantau china ( Pattani?) dan kembalinya membawa seorang pandai ukir yang terkenal dengan ragam ukirnya Aka Chino ( Wallahu alam). 

Jika pun ini dianggap mempunyai nilai kebenarannya maka itu berkahu sekitar tahun 1080..bila Sutan Balun Datuk Perpateh Nan Sebatang masih berumur 30-han tahun. Maknanya Indo Jolito berkahwin dengan Seri Maharaja sekitar tahun 1050. Logikanya ketika Sang sapurba gagal meminta upeti ke Sriwijaya tahun 1030 ia kembali ke Mongol, akan tetapi perahunya terdampar di Muara Kampar dan diketahui tahun 1050 telah berkahwin dengan Indra Jelita (bundo Kanduang). Seloanjutnya, menurutr Tambo Minangkabau ia mendirikan negeri Sungai Tarab 8 batu, sebagain perpanjangan kekuasaan Bungo Setangkai.Putranya bergelar Dt.Ketumanggungan. Keika itu Perpateh Nan sebatang ( sutan Balun) belum Lahir lagi.

Suami kedua Indo Jolito adalah Cheti Bilang Pandai, ayah kepada Sutan Balun, setelah besar sutan Balun diberi gelar Datuk Perpateh Nan sebatang. Dengan begitu, Nama Datuk Perpateh Nan Sebatang, bukanlah nama Orang.Tetapi adalah Gelar Jabatan, yang diterima Sutan Balun.

Dengan begitu, perlu di  kritisi, bila gelar Penghulu Turun Gadang Manyimpang, yakni dari Mamak ke ke menakan, maka siapakah Mamak kepada Sutan Balun? Siapa yang memberikanj gelar Datuk Perpateh Nan sebatang kepada Sutan Balun?  Bila Ibunya adalah Indra Jelita ( Indra Yang Jelita ) adalah anak Raja Indra, maka sang Mamak tentulah dari keluarga Raja Indra juga. Bila seorang Cheti ( saudagar ) boleh berkahwin dengan seorang anak Raja Indra ( Indra jolito) maka pastilah Cheti dimaksud seorang saudagar di lingkungan Raja Indra juga.

Diisinilah hubungan  Maharaja Indra adalah keturunan Indravarman yang mjembawa cheti dalam perjalanan kembali ke Sumatera . Maka dapatlah di mengerti bahwa Sutan Balun alias Datuk Perpateh Nan sebatang,,sesungguhnya adalah Keponakan Raja Sri Indravarman ke VI.Keponakan kepada Maharaja Indra, (Datuk Maharaja Indra) Ninik tertua di Limbanang Koto Laweh-Hulu Kampar. Oleh karena hal yang demikian, maka wajarlah Sako Datuk Perpateh Nan sebatang kembali ke Mbonang Koto Laweh, menjadi salah satu Tiang Balai dalam Balai Nan Panjang Mbonang-karena Balai Nan Panjang itu sendiri wujud sweteloah adanya Persumpahan ( Musyawarah) anatara 4 orang Ninik yang asal di Tanah Penago-Mbonang dan di tandai dengan Batu Megalith “ Batu pasumpahan” dean masih dapat di lihat sampai sekarang. Batu pasumpahan, merupakan tapak asal dari Balai Nan Panjang di Mbonang koto laweh. Tapak yang asal ini  terang didirikan  Datuk Maharaja Indra sebagai Ninik yang tertua di Hulu Kampar.

Tapak Kedua Balai Nan Panjang, terdapat di Pariangan- Yang didirikian Indo Jolito ( Bundo Kanduang) akan tetapi dengan meninggalnya Sutan Balun –Datuk Perpatih Nan Sebatang di Solok, sekitar abad ke XI, maka sako Adat Datuk  Perpateh Nan Sebatang kembali ke pangkalnya di Mbonang Koto Loweh dalam tahun 1223, Selanjutnya menjadi Tiang Balai Nan Panjang di Mbonang.

Di tempat asalnya, Ada  19 gelar sako andiko Datuk Perpateh Nan sebatang yang di inventarisasikan sejak tahun 1223 sampai sekarang. Karena Datuk Perpateh Nan sebatang bukan seorang Raja, maka Pemegang sako Datuk Perpateh Nan sebatang, tidak memakai gelar Induknya, tetapi  lebih banyak  memakai gelar sako nya saja, yakni Datuk Patih. Ke 19 orang Datuk Patih pemegang sako Datuk

Perpateh Nan Sebatang dan yang di iftiraf di Balai Nan Panjang adalah;


Datuk Perpateh Suanggi- kampong Chaniago

Datuk Perpateh – kampong Sungai Napa

Datuk Perpateh Sabatang- Kampong Lubuk Batang

Datuk Patih Kampong Koto Anyia- Mbonang

Datuk Patih Kampong Sipanjang

Datuk Patih koto Anya ( Dubalang adat Kulang Kencong)

Datuk Patih kampung Guci

Datuk Patih Baringek kampong Guci

Datuk Patih Sinaro –Kampong Guci

Datuk Patih Gopung- Kampong Bodi

Datuk Patih Bandaro Bundo kampong Singkhuang

Datuk Patih Bandaro Panjang-Kampong Singkhuang

Datuk Patih Pangka Bandaro kampong Chaniago

Datuk Patih Pangkomo Kampung Mungkal

Datuk Patih Bandaro Rajo Kampong Koto Anyia,

Datuk Patih Bandaro Panjang Kampong Singkhuang

Datuk Patih Mangkhudum –Kampong Singkhuang ( Punah. Atok Kepada Datuk Lubuk Sati)

Datuk Patih Besar – Kampung Guci.( Datuk Kepada Pemegang gelar  Rangkayo Besar Bertuah)

Datuk Patih Pinang Sebatang ( Gucci) – Kampong Ujung Tanah  ( Sekarang Naning-Melaka) Pemegang gelar Rangkayo Raja Merah.

Dapat diterangkan bahwa 8 Nagari di dalam kawasan Hulu Kampar dengan Penghulu ke empat suku sebagai pemimpin tetinggi dalam adat Perpateh, terdapat 4 Bagian suku.. Delapan Nagari itu terbagi dalam Empat Sudut. Yaitu;

1.      Sudut Nan Ampek

2.      Sudut Nan Limo

3.      Sudut Nan Enam

4.      Sudut Nan Sembilan

Didalam Sudut Nan Enam, terdapat nagari –nagari Simelenggang,Guguak,tigo Batu- Piobang-Lubuk Batingkok-Mungkal dan Sungai Beringin


By : Mairizal/Anthon Lubuk 

Pic : google

       : Pusat Kajian Andiko 44

Post a Comment

0 Comments