Ticker

6/recent/ticker-posts

Asal Usul Adat Parpateh 2 | dutametro




Kembali saya kutip dari catatan Anthon Lubuk Datuk Paduka Rangkayo Besar Bertuah  dari Limbanang 


Sejarah menyebutkan bahwa pengiriman anak-anak Raja yang awal dari Pagaruyung ialah tahun 1773M.Yaitu rombongan Raja Malewar. Raja Malewar adalah keturunan Raja Gunung Sahilan. Bersama rombongan itu telah ikut datuk Megat ( Mogek) yang diketahui kemudian memakai gelar Datuk Megat Melintang Alam.....Megat berasal dari kaum Rajo Batuah di Pagaruyung yang sampai hari ini masih wujud dan gelar itu terpelihara dengan baik.

Sebetulnya, hubungan dengan Melaka telah terjalin jauh sebelum itu, yakni pada tahun1223.ketika ekpansi Sri Aditya menuju chedi Muara Takus dan Sri Dharma Raja. Dua Ratus Tahun kemuadian terjadi urbanisasi  kedatangan Rombongan Datuk Khatib Tunggal – Datuk Ri Bandang, Lolo Bayo dan Datok Mahkotta yang di usir oleh Tentera Siam keluar Malaka tahun 1511. Keluarga Datok Mahkota terdampar di Sanro Bone –Sulawesi selatan, dekat Kerajaan Goa Tallo.Di dalam Tambo Minangkabau dapat diketahui beberapa datuk yang tak puas terhadap sistim adat di Minang telah keluar dari tanah Minang dan berekpansi ke wilayah Indonesia Timur. Terkienal dengan semboyan mereka, Sayang anak dilecuti, sayang kampung di tinggalkan.

Exodus berikutnya terjadi ketika peristiwa Huru Hara tahun 1804, dan diteruskan oleh kaum Urban tahun 1815 sisa kerusuhan di Balai Jariang dan Balai Gobah ( Kab 50 Kota) ekpansi berikutnya terjadi pada tahun 1779 yaitu pengiriman Raja Lenggang dan terakhir diketahui Tahun 1862, mengikut ekspansi yang dilakukan oleh Tuanku Bosa V,Sutan Jamin ke Kuala Pilah,Negeri Sembilan.Dalam Tahun 1855 rombongan Sutan Abdul Jalil dan abd Rahman telah keluar dr Pagaruyung-melalui Lintau dan Balai Gobah menuju Negeri sembilan.Tahun 1864 kaum urban dari Minangkabau ke Semenanjung Malaya terhenti karena adanya peperangan perebutan kuasa di Bukit Putus Negeri sembilan 


Catatan Saya (Al hagi) 


  Adat PERPATEH pada dasar nya adalah " Beraja Ke Mufakat" ,

keputusan tertinggi adalah keputusan dalam mufakat bersama , 

Peran Raja dalam adat PERPATEH hanyalah simbol kepemimpinan, kuasa penuh tetap berada di tangan Ninik mamak ,


Adat yang di kembangkan perpatih adalah ADAT JATI , yaitu Adat yg sebenarnya adat dalam sistem kedatuan, 

Adat Jati ini adalah adat nya masyarakat Kampar kanan, lengkap dgn undang Jati dan Adat Soko pisoko limbago,


#tambahan 


Cateri Bilang Pandai 


   Cati Bilang Pandai adalah julukan yang diberikan kepada Wisnu Rupakumara yang menjadi suami Bundo Kanduang. Ia menikahi Bundo Kanduang, yang ketika itu berstatus janda dengan seorang putera sewaktu mengantarkan arca amoghapasya dari Majapahit untuk Dharmasraya sebagai simbol persahabatan.


Wisnu Rupakumara dijuluki sebagai Cati Bilang Pandai karena ia adalah seorang yang bijaksana, pandai berkata-kata dan berbicara serta arif dalam permasalahan. Sebelumnya ia merupakan seorang bangsawan Majapahit, sebagai penasihat raja Raden Wijaya. Karena tertarik dengan kehidupan Bangsa Melayu, ia memilih menetap di Darmasraya. Dengan Bundo Kanduang ia dikarunia dua orang putera dan empat putri. Salah seorang puteranya yang terkenal dalam Tradisi Minang adalah Datuk Perpatih Nan Sebatang.

Post a Comment

0 Comments