Ticker

6/recent/ticker-posts

Sepertinya Masyarakat Harus Dipaksa Untuk Patuh Agar Penularan Covid-19 Bisa Dihentikan | dutametro



dutametro.com.-Dua minggu terakhir kita selalu mendengar berita bahwa pertumbuhan wabah Covid-19 di Indonesia mencapai diatas 1.000 orang perhari. Saya mencoba melakukan penelusuran lapangan dengan terbang dari Padang - Jakarta - Surabaya.

Ketika check-in di Bandara Minang Kabau saya cukup senang karena begitu ketatnya pemeriksaan terhadap protokol kesehatan yang dilaksanakan oleh petugas bandara. Aturan di ruang tunggupun cukup melegakan sehingga para pengguna jasa bandarapun terlinat bisa menjaga jarak (tapi mungkin saja karena calon penumpang tidak cukup ramai). Celakanya, ketika akan boarding para penumpang sepertinya lupa dengan aturan physical distancing. Begitu mendengar perintah boarding, para penumpang tidak lagi menjaga jarak (sepertinya diperlukan petugas yang mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan ketika akan boarding). Ini adalah fakta 1 yang ditemui bahwa masyarakat kurang peduli.


Lebih parah lagi sesampai di pesawat, pengaturan seat kembali menjadi amburadul sehingga physical distancing kembali tidak terpenuhi. Bahkan ada seat yang tumpang tindih (petugas darat sepertinya tidak hati-hati dalam mengatur seat, atau memang tidak peduli). Saya sempat berkali-kali meminta pramugari untuk memindahkan penumpang yang ada disebelah saya karena tempat duduk pada baris dimana saya duduk terisi penuh, sementara ada beberapa seat yang kosong di depan saya. Aneh nya Bapak yang duduk disamping saya yang saya suruh pindah seakan tidak peduli (ini fakta 2 bahwa masyarakat kurang peduli).

Begitu pesawat akan mendarat di Bandara Soetta, pramugari menyampaikan bahwa ada aturan untuk turun pesawat agar protokol kesehatan tetap terpenuhi. Penumapang diatur turun per lima baris, itu yang disampaikan oleh pramugari.

Pada awalnya terlihat aturan berjalan sesuai harapan. Ketika pintu pesawat mulai dibuka, para penumpang dalam waktu bersamaan mengambil bagasi dan berdesakan untuk turun, sehingga jaga jarak tidak lagi bisa dilakukan. Ini adalah fakta 3 bahwa masyarakat tidak peduli.

Ketika diruang tunggu transit Bandara Soetta, suasa sepertinya terlihat tertip. Semua orang menggunakan masker pelindung hidung dan mulut. Aneka ragam bentuk masker membuat pemandangan jadi lebih menarik. Tempat duduk di ruang tunggu pun sudah ada aturannya dan calon penumpang pesawat sepertinya mematuhinya.

Beberapa jam kemudian, terdengar perintah agar penumpang yang akan berangkat ke Surabaya dipersilahkan untuk menaiki pesawat. Astaghfirullah...lebih konyol lagi, para penumpang yang tadinya tertib berubah menjadi tidak karuan dan saling memotong untuk segera sampai di pintu pemeriksaan tiket. Disini tidak terjadi lagi jaga jarak. Ini fakta ke 5 bahwa masyarakat tidak peduli dengan Covid-19.

Setelah melewati pintu pemeriksaan tiket tujuan Surabaya, pihak maskapai membagikan face seal kepada semua penumpang dan meminta memakainya sepanjang perjalanan. Saya kembali kaget sesampai dipesawat, betapa tidak...saya lihat seat pada row ekonomi sampai row emergency exit terisi penuh. Disini tentunya pihak maskapai perlu dipersalahkan. Yang lebih mengagetkan lagi, mayoritas para penumpang melepas face seal yang tadinya dibagikan oleh pihak maskapai. Ini fakta ke 6 bahwa masyarakat tidak peduli penyebaran Covid-19.

Untungnya saya dan istri saya duduk di row no 22 dan disamping kami tidak terisi oleh penumpang lain. Saya sempat membagikan beberapa foto-foto terhadap kondisi yang saya alami kepada anak-anak saya yang selalu mewanti-wanti saya untuk tetap mematuhi semua protokol kesehatan. Bahkan beberapa orang teman sempat mengingatkan saya agar berhati-hati berada di zona merah seperti Surabaya dan Jakarta.

Sesaat menjelang pendaratan pesawat di Bandara Juanda Surabaya, pramugari juga mengumumkan hal yang sama seperti ketika mendarat di Bandara Soetta. Setelah pesawat berhenti dengan sempurna dan belum ada perintah untuk keluar dari pesawat, untuk beberapa waktu memang semua penumpang diam dan belum beranjak dari kursi tempat duduk. Namun tak berapa lama, satu dua orang mulai berdiri dan mulai membuka tutup bagasi dan mulai mengeluarkan barang bawaannya. Spontan pramugari meminta agar semua kembali ketempat duduk dan belum boleh mengambil bagasi sebelum ada perintah. Ini adalah fakta ke 7 atas ketidak patuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan.

Proses keluar dari pesawat pun dikawal oleh pramugari dengan mengatur proses penurunan penumpang per 5 row dan berlajan dengan lancar dan tertib. Tapi amat disayangkan, para penumpang tidak lagi memakai face seal yang sudah dibagikan oleh maskapai. Disini terlihat bahwa upaya perlindungan yang diberikan oleh maskapai tidak sepenuhnya digunakan dan dimanfaatkan oleh penumpang pesawat karena sudah memasuki zoma merah (Surabaya). Ini faka ke 8 yang ditemukan dilapangan.

Setelah melakukan pengambilan bagasi, semua penumpangpun menuju ke gate untuk pemeriksaan barcode eHAC yang diisi secara online pada saat check-in. Disinipun masalah physical distancing pun tidak dihiraukan oleh penumpang. Penumpang seperti orang tergesa-gesa dan sedikit berdesakan (seperti perilaku yang sudah biasa sebelum ada kasus Covid-19) memperlihatkan barcode masing-masing. Sampai diluarpun datang lagi kerumunan para driver yang menjajakan jasa angkutan yang juga tidak mengindahkan protokol kesehatan dalam menjaga physical distancing. Ini fakta ke 9 dan ke 10.

Pemerintah telah melakukan upaya maximal untuk mengingatkan masyarakat dalam menekan penyebaran Covid-19 di Indonesia. Menyediakan fasilitas dengan mengalihkan berbagai anggaran demi keselamatan masyarakat. Sementara masyarakat sendiri seperti tidak memahami atau tidak mau tau dengan ancaman kesehatan dari Covid-19 ini.
Jika ini yang terjadi, sepertinya usaha besar pemerintah dalam menekan perkembangan Covid-19 di Indonesia yang menghabiskan dana trilyunan tidak akan mampu menekan pertumbuhan virus corona atau Covid-19. Kota sebesar Jakarta dan Surabaya membutuhkan tingkat pengawasan melekat agar orang-orang bisa patuh terhadap protokol kesehatan. Terbukti bahwa kondisi diatas telah membawa kedua kota besar di Indonesia itu menjadi juara dalam pertumbuhan masyarakat yang terkena Covid-19 di Indonesia.

Sepertinya pemerintah dan instansi terkait harus menyiapkan tambahan tugas baru bagi semua petugas yang terlibat di Bandara dan karyawan maskapai untuk tidak segan-segan dalam menindak dan menegur para pengguna jasa bandara yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Tidak hanya di Bandara, terminal bus dan terminal laut pun harus mulai diperketat pengawasannya agar semua orang dapat memenuhi dan menjalankan protokol kesehatan. Rasanya belum lengkap jika semua kendaraan di jalan raya belum diperiksa dan dirazia terhadap kepatuhan akan protokol kesehatan.

Jika semua pengawasan diatas bisa dilaksanakan oleh semua petugas pada setiap instansi pemerintah dan pemerintah menurunkan instruksi kepada Gubernur, Walikota dan Bupati sampai ke tingkat Kecamatan dipastikan tingkat keberhasilannya akan sangat tinggi. Mudah-mudahan Indonesia bisa segera terbebas dari Covid-19 secepatnya.(abdul aziz)

Post a Comment

0 Comments