Ticker

6/recent/ticker-posts

Budi Adalah Cerminan Jati Diri Orang Minang | dutametro

oleh : Ir Abdul Aziz




dutametro.com.-Pagi ini saya tersentak karena diingatkan oleh sahabat saya Dirwan Ahmad Darwis bahwa menjelang siang ini akan berlangsung diskusi yang bertema BUDI dan SENI, yang diselenggarakan oleh JKKN Negeri Sembilan Malaysia dan beliau menjadi narasumber utama dalam diskusi tersebut. Dirwan Ahmad Darwis atau yang sering saya panggil dengan Bung DAD adalah seorang penulis dan pengamat seni dan budaya Minang Kabau yang berasal dari Kabuapaten Agam tepatnya dari nagari Baso. Beliau sudah merantau sejak 20 tahun yang lalu di Malaysia dan sudah sangat fasih berbahasa Melayu layaknya penduduk asli Malaysia.

Ada dua hal yang berkecamuk dalam benak saya dengan penyelenggaraan diskusi Budi dan Seni tersebut. Pertama, rasa bangga pada Bung DAD sebagai orang minang yang sangat dihargai pengetahuannya tentang Budi dan Seni Minang Kabau di Kerajaan Malaysia khususnya di Negeri Sembilan. Kedua, bahwa mengapa diskusi seperti ini sangat jarang sekali ada di negeri kita Indonesia yang sangat terkenal didunia dengan ratusan adat dan budayanya. Mengapa bangsa kita selalu sibuk dengan diskusi tentang tema korupsi, perebutan kekuasaan, masalah partai-partai politik dan lain-lain yang membuat masyakat awam semakin bingung. Sementara di negeri tetangga kita, mereka memanfaatkan orang Indonesia yang memiliki keahlian seni dan budaya untuk dikuras ilmu dan pengetahuannya dan dipakai sebagai perbaikan landasan kehidupan mereka dalam bermasyarakat.

Berbicara soal budi yang mengandung “sipaek nan tigo” ; rasa, karsa dan cipta. Rasa atau “raso” yang bermakna menggunakan perasaan dan berhati-hati dalam berkomunikasi dalam bermasyarakat, apakah setiap kata yang kita ucapkan akan membuat lawan bicara kita tersinggung atau tidak. Karsa adalah daya ataupun kekuatan dari jiwa yang menjadi dorongan bagi makhluk hidup dalam berbuat yang juga diartikan sebagai kehendak. Sedang Cipta adalah merupakan kemampuan dalam fikiran untuk mengadakan sesuatu hal yang baru dan bermakna angan-angan yang berdaya kreatif. Itu lah makna besar yang terkandung didalam BUDI. Tak heran jika orang Minang mampu berbaur dengan masyarakat lain dimanapun mereka tinggal dan menetap.

Berdasarkan prinsip berbudi tadi, orang Minang menjadi memiliki pedoman hidup dalam bertindak. Mereka betul-betul berhati-hati dalam bersosialisasi. Dikutip dari situs cabuak.net :

Begitu penting nya “raso jo pareso” dalam kehidupan orang Minang, maka adat Minang menuntun masyarakatnya untuk menanamkan rasa malu dengan rasa sopan. Rasa takut kepada Allah SWT, rasa malu terhadap sesama manusia, malu antara lelaki dan perempuan, malu antaro sumando dengan mamak rumah, malu antara mertua dengan menantu, malu berbuat sumbang salah, malu melanggar aturan adat, malu melihat kalau ada tetangga merintih karena kelaparan, malu berbuat tidak sopan, malu kalau-kalau hati oramg terluka, malu kalu terambil hak orang lain, dan banyak lagi rasa malu yang lainnya.

Dalam kehidupan bermasyarakat di Minang Kabau, barangkali masih terngiang ditelinga kita ketika kedua orang tua kita sering mengenalkan banyak sekali penerapan kata-kata budi, seperti ; Budi Baiak, Budi Buruak, Elok Budi, Buruk Budi, Kedapatan Budi, Tajua Budi, Barutang Budi, Mananam Budi, Budi Bahaso. Tapi apakah kita sudah memahami semua kata-kata budi tersebut atau akan hilang dimakan waktu seiring denga menuanya kita ?

Barangkali sama-sama kita sadari bahwa, budi hanya tinggal slogan hidup saja. Begitu banyak kita lihat contoh-contoh lenyapnya budi dalam masyarakat, seorang anak yang sering membantah perkataan orang tua nya (yang katanya “ini kan diskusi dan mencari pembenaran”). Kemenakan tidak lagi menghormati mamaknya disaat sang kemenakan sudah lebih kaya dibandingkan mamak yang hanya hidup dengan sawah ladangnya di kampung. Orang-orang tidak lagi peduli dengan adat isti adat di kampungnya karena sudah berumah tangga dengan suku lain (dengan alasan kebebasan memilih pasangan). Mengapa hal ini harus terjadi ? Apakah kita tidak menyadari bahwa kehilangan budi berarti kehilangan sopan santun ? Lihatlah apa yang terjadi dalam pergaulan masyarakat bebas saat ini, sampai kekampung-kampung pun kebebasan itu sudah menggerayangi hati saudara, anak cucu dan saudara kita.

Indonesia, Sumatera Barat dan Minang Kabau khususnya tidak selayaknya kehilangan BUDI, karena budi sudah menjadi pilar dan pedoman hidup bagi orang Minang, dan dengan budi tersebut orang Minang bisa sukses dibidang apapun, dan tentu kesuksesan itu akan sirna seiring dengan sirnanya budi dihati orang Minang. Oleh sebab itu, mari kita sama-sama mempertahankan agar budi itu tetap kental dan tinggal dihati kita sebagai orang Minang. Sebagai orang Minang kita tentu tidak rela jika suatu saat budi itu akan lenyap dihati anak cucu kita sebagai generasi penerus orang Minang.

Post a Comment

0 Comments