Ticker

6/recent/ticker-posts

Pemilik Rumah Gadang Pertanyakan Proyek Revitalisasi yang tidak Sesuai Perjanjian | dutametro



Solok Selatan, dutametro.com---Pemilik Rumah Gadang ( Rumah Adat) yang rumahnya masuk program Revitalisasi melalui dana  APBN kecewa dengan pekerjaan perusahaan PT Wisana Matra Karya (WMK), bahkan spek pekerjaanya tidak sesuai dengan perjanjian yang telah disepati.

Dan sebagian pemilik menyesalkan kenapa harus semua rumah gadang itu harus dibukak dari awal semua lantai, dinding, atap alias ditelanjangi, setelah dibuka tak kunjungi dilakukan pemasangannya kembali, sehingga rumah gadang yang dibuka itu kehujanan dan berpanas, kalau dibiarkan berlama lama akan lapuk,.sebab bahannya sudah tua.

Masyarakat di Kawasan Saribu Rumah Gadang (SRG) Nagari Koto Baru, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat mengeluhkan juga jenis kayu yang digunakan untuk revitalisasi rumah gadang karena tidak sesuai dengan spesifikasi atau kriteria yang telah disepakati


Oleh karena bangunan ini adalah bangunan adat yang kayunya tidak sembarangan ada empat jenis kayu yang disepakati antara pihak perusahaan dengan ninik mamak, tokoh masyarakat, ketua KAN seminggu sebelum pelaksanaan, diantaranya jenis kayu seperti, banio, timbalun, kruning, kuranji, kompe, meranti, surian, marsawa dan bayua, kenyataanya banyak yang kayu diluar spek perjanjian.

Selain itu warga setempat juga menyayangkan adanya proyek pemaksaan pemasangan Lanscape yang bahanya dari batu candi, namun yang dipasang hanya batu air yang pecah belah, proyeknya juga berlokasi disekitar rumah gadang, tepatnya dijalan utama masuk kawasan, batunya tidak sesuai spek juga.

Sarbaini Dt Tanbijo dan sejumlah ninik mamak pemilik rumah gadang menyayangi proses kerja revitalisasi rumah gadang, yang jauh melenceng dari perjanjian awal, pada intinya banyak perjanjian yang dilanggar oleh perusahaan PT WMK.

Dicontohkan Sarbaini, bahan kayu untuk rehab rumah gadang miliknya banyak yang tidak sesuai, dan Saya pernah menolak bahan kayu yang datang itu, belum lagi yang lain, kalau ninik mamak pemilik rumah tidak jeli dan tidak hati hati menerima bahan ini, akan hancur rumah gadang untuk anak cucu kita kedepannya, jika kita hanya menampung saja.

Lain halnya dengan Ujeng Darmansyah, salah seorang tokok pemuda dan parik paga dalam nagari, yang ikut membawa perusahaan PT WMK ke Solok Selatan, namun setelah berjalan beberapa minggu terlihat ada ketimpangan dan melenceng dari perjanjian yang telah disepakati, pantas saja tiga orang pimpinan PT WMK  yang lama mengundurkan diri, karena sudah terlihat ada yang tidak beres," ucap Ujeng.

" Ujeng juga memprediksi jika proyek ini tidak hati hati dalam melaksanakan kegiatanya, bisa bisa proyek ini jadi kasus Masjid Agung jilid dua," tegasnya

Kepalan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok Selatan Harry Trisna saat dikonfirmasi Dutametro.com, Kamis ( 25/6/2020) membenarkan hal ini, sebagian pemilik rumah gadang yang direvitalisasi mengeluhkan kayu yang digunakan karena tidak sesuai dengan kriteria.

Dalam pembuatan rumah gadang tidak bisa sembarangan kayu yang dipakai tapi ada kriterianya, bahkan Saya sudah sering mendapat laporan dari warga SRG baik itu secara langsungaupun melalui media sosial, hal ini tidak bisa dibiarkan, Disporabud juga akan segera turun kelokasi mencari akar permasalahannya.

Menurutnya kayu yang digunakan untuk membangun rumah gadang merupakan kayu pilihan sesuai dengan perjanjian sehingga bisa bertahan dalam waktu lama, kayu untuk rumah adat ini memang susah untuk mendapatkanya.

Pihak nagari maupun Kerapatan Adat Nagari (KAN) serta masyarakat sudah menawarkan tempat pembelian kayu di daerah lain yang sesuai spesifikasi kepada rekanan tetapi tidak ditanggapi, sebutnya.

Kadis menambahkan, Dirinya sudah sering kelapangan bahkan sudah malaporkan ka BPPW Sumatera Barat, dan rencana pihak Disporabud akan menemui BPPW  dan OPD terkait  PU, Perkimlh yang akan dikoordinir oleh Asisten 2.

Sementara itu Wali Nagari Koto Baru Ahmad Julaini mengatakan, pihaknya sudah jauh jauh hari mengingatkan rekanan terkait penggunaan kayu dalam revitalisasi rumah gadang tetapi kurang ditanggapi.

"Kami tidak memiliki kewenangan apapun di sini dan tak pernah dilibatkan dalam kegiatan revitalisasi ini, sehingga hanya bisa mengingatkan saja sebab banyak keluhan dari masyarakat," ucap Ahmad

"Sebaiknya, katanya pihak provinsi melakukan pengecekan langsung ke lapangan sebab pemkab dan nagari tidak memiliki kewenangan apapun,".ucapnya lagi

Dia mengatakan hampir seluruh rumah gadang yang direvitalisasi menggunakan kayu yang tidak sesuai kriteria yang ditentukan.

"Saya juga tidak tahu kayu apa yang digunakan tetapi tidak sesuai kriteria, bahkan tidak sesuai dengan perjanjian dan sekarang yang mengelola kayupun sudah diganti perusahaanya," kata wali kesal

Terpisah Pimpinan perusahaan WMK Solok Selatan, Projeck Manager  Miko saat dikonfirmasi sejumlah Media dikediamanya Bariang Rao- rao dua hari lalu membenarkan hal ini, namun pihaknya membantah pekerjaan saat ini bukan terlantar, justru terkendala beberapa permasalahan diantaranya musim penghujan, memasuki lebaran dan kasus covid.

Terkait masalah bahan seperti kayu, papan semula memang ada perusahaan yang memiliki izin pengolahan kayu, perusahaan dari Kabupaten Sijunjung, namun, setelah berjalan beberapa hari kayu itu sulit untuk didapat dan sesuai dengan aturan jika dilokasi pekerjaan ada perusahaan yang bisa mengelolah kayu boleh diserahkan pada mereka, yang kami hanya sebagai pembeli,"  katanya.

Dua hari yang lalu, bahan seperti kayu itu sudah mulai datang begitu juga atap seng juga sudah didatangkan dari Bandung dan Pakan Baru, kenapa atap seng ini kami datangkan dari luar Sumbar karena pihak perusahaan hanya boleh membeli dari satu pabrik yang bahanya sesuai spek jenis seng kode 03 dan di Sumbar tidak ada yang menjual seng jenis 03 itu.

Kemudian juga ada permasalahan pemasangan batu candi ( Lanscape) disekitar jalan masuk dan pekarangan didepan rumah gadang bukan tidak sesuai spek, itulah yang terbaik, setelah selesai pemasangan batu itu nanti disela sela yang kosong akan diberi rumput jepang, sehingga nanti antara batu dan lobang akan menyatuh.

Diakui juga ada jorong yang menolak pemasangan batu untuk jalan masuk kelokasi rumah gadang, kami juga membuat surat pernyataan penolakan.

Diperkirakan pekerjaan sejak awal mulai dari revitalusasi, pembangunan tower dan kios sudah mencapai lebih kurang 50 persen, ditambahkan Miko perusahaan kami juga banyak memakai pekerja setempat, bahkan revitalisasi rumah gadangpun ditunjuk tukang tuonya itupun orang asli koto baru.

Hanya saja dalam hal ini kami dalam masa pekerjaan belum sampai batas waktu yang ditentukan tentu diakui pekerjaan ini belum sesuai keinginan dan rencana awal, penyebabnya ya itu tadi banyak kondisi dan situasi yang menjadi penghalang.

Pekerjaan ini hanya dalam.jangka waktu satu tahun dan akan berakhir pada bulan Nopember 2020 nanti.

Miko menguraikan jenis pekerjaan yang dibiayai dana APBN untuk revitalisasi dan sebagainya, rumah gadang 33 unit, kawasan (utara, selatan, barat, timur) item ini berada di kawasan rumah gadang. Item pekerjannya perkerasan jalan, drainase, lanscape dll.

Lalu gedung informasi dan gedung souvenir (struktur baja dengan atap khas rumah gadang, panggung, bangunan service km, toilet umum, kios, menara pandang (8 lt) struktur beton dan baja, MEP kawasan, semua ini sudah mendekati 50 persen.

"Namun jika sudah habis masa kerja, lalu pekerjaan tidak selesai, silahkan warga dan pemilik protes kepada kami," harap .met

Post a Comment

0 Comments