Ticker

6/recent/ticker-posts

Tambang Air Dingin,MENCIBIR,Perda Propinsi Sumbar no 3 Thn 2012


DUTAMETRO.COM.SOLOK - Nagati Aia Dingin di Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok, merupakan daerah kaya akan  hasil tambang. Karena sumber daya alam (sda) yang terkandung dalam perut bumi di Nagari Aia Dingin tersebut banyak terdapat pasir, batu dan kerikil (sirtukil).
    Terutama pada ruas jalan utama di sepanjang  pinggiir jalan yang nenghubungkan Kabupaten Solok dan Solok Selatan nan tembus ke Kerinci itu, banyak aktifitas Galian C. Satu sisi tempat pengantungan pencarian hidup masyarakat setempat, namun sisi negatifnya relatif mengabaikan dampak lingkungan. "Kalau musim hujan kami cemas melewati (ruas) jalan itu, takut ketiban longsor. Jalan disini sangat rusak sekali akibat imbas tambang, dan dulu sebelumnya sempat tertimbun yang memutuskan akses Muara Labuh ke Solok maupun ke Padang",kata hendra pemuda Surian yang sering melewati jalan tersebut.
    Dari pantauan DUTAMETRO.COM Sabtu, (1/3/2020) di TKP, terlihat sejumlah alat berat mengeruk bukit-bukit karang secara leluasa. Dengan  kasat mata alat berat itu meraung-raung di pinggir jalan dengan bebas. "Diperkirakan ada sekitar 100 mobil tiper dan dumptruk pengangkut sirtukil, yang diprediksi setengah miliar (Rp.500 juta) uang dihasilkan dalam sehari dari hasil tambang di Aia Dingin ini",sebut Dermawan seorang pemuda yang ikut aktifitas itu.
    Kini yang menjadi pertanyaan sepanjang kegiatan tambang  berlangsung, sampai-sampai merusak lingkungkan hingga menutup ruas jalan utama, seberapa jauh konstribusi untuk nagari maupun PAD ke Kabupaten Solok. Karena sinyalemen berkembang, penambangan diduga banyak yang ilegal itu, uang beredar dan masuk memenuhi pundi-pundi oknum tertentu.
     Sementara Pemerintah Propinsi Sumbar melalui Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumbar Nomor 3 Tahun 2012 tentang pengelolaan usaha pertambangan mineral dan batubara seakan terabaikan. Padahal untuk pembuatan sebuah Perda, hingga. proses penerbitan menelan anggaran ratusan juta bahkan sampai semilyar. Namun keberadaan Perda No.3/2012 kini terkesan kamuflase saja terhadap tambang sepanjang pinggir jalan di Aia Dingin tersebut. Bersebab pasal per pasal isi dari Perda itu, banyak berbenturan dengan aktifasi atas kegiatan tersebut. Di antaranya mengabaikan lingkungan, biota air, atau hinggga sudahkah berizin. Niscaya pembiaran-pembiaran seperti ini oleh Pemprov.Sumbar yang mesti ditindaklanjuti. "Jangan pemprov dan FPRD Sumbar hobi buat Perda habiskan anggaran ratusan juta sampai milyaran, akan tetapi cuma jadi buku suci yang tersimpan dalam musium",kata Hendra yang sarjana tadi.(ys)

Post a Comment

0 Comments