Ticker

6/recent/ticker-posts

Carut Marut Pembangunan Gedung BPBD Sumbar, Kabid Rehab Rekon Pasang Badan?


dutametro.com, (Padang) — Dalam rencana strategis satuan kerja perangkat daerah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2016-2021 tertuang bahwa berdasarkan kondisi aktual sarana dan prasarana yang dimiliki saat ini, maka jumlah dan jenis sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang tugas dan fungsi BPBD Sumbar belumlah memadai.

Terlebih lagi BPBD Sumbar belum memiliki gedung kantor sendiri dan masih menempati gedung kantor milik instansi lain. Selain itu, dalam menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi BPBD Sumbar pada saat tanggap darurat maka dibutuhkan ketersedian peralatan dan logistik stock opname yang siap sedia pada saat dibutuhkan, dan ketersediaan gedung Pusdalops PB serta gudang logistik dan peralatan sangatlah penting.

Diharapkan dalam periode 5 (lima) tahun ke depan, pembangunan gedung kantor BPBD Sumbar dapat segera dilaksanakan, serta penyediaan peralatan dan logistik stock opname dapat dimasukkan dalam kebijakan anggaran setiap tahunnya. Selain itu, perlu juga diupayakan pembangunan gedung Pusdalops PB serta gudang logistik dan peralatan dalam rangka menunjang penyelenggaraan penanggulangan bencana di Sumatera Barat serta pencapaian target kinerja SKPD tahun 2016-2021.

Namun harapan yang tertuang dalam Renstra SKPD BPBD Provinsi Sumatera Barat untuk mempunyai gedung sendiri yang mampu memfasilitasi semua kebutuhan BPBD Sumbar seharusnya diiringi dengan perancanaan, pelaksanaan, dan pengawasan yang matang dan terintegrasi. Hal ini disampaikan Ketua Divisi Intelijen dan Investigasi DPD LPRI Sumbar, Efrinal St Sulaiman ketika ditemui JMG (05/01). Menurut Efrinal, pembangunan gedung kantor BPBD Sumbar banyak yang mengalami cacat struktur. KPA dan PPK diduga memaksakan penggunaan anggaran tanpa memperhitungkan kualitas struktur.

“Bagaimana tidak, pembangunan gedung tahap pertama terlaksana pada tahun 2012 yang lalu, telah lebih 5 tahun struktur lantai 1 terbengkalai, dan besi tiang tergerus cuaca selama itu, seharusnya ada perilaku penyambungan tersendiri pada besi tiang untuk melanjutkan pekerjaan struktur lantai 2 dan 3”, ungkap Efrinal.

Kemudian pekerjaan tahap II untuk melanjutkan pembangunan struktur lantai 2 dan 3 dilaksanakan 2018 lalu dengan PT. Andika Utama sebagai kontraktor pelaksana dan menggunakan anggaran sebesar Rp. 3.674.924.000,-. Pekerjaan PT. Andika Utama diduga tidak terawasi dengan baik. Padahal rencana struktur gedung ini designnya sangat kokoh.

 Rencana pembesian juga sudah memasukan aspek gempa dalam penghitungan beban maksimal. Sayangnya dalam pelaksanaan, kontraktor seakan tidak berkomitmen untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Waktu itu (dalam masa pekerjaan - red) banyak media yang menyorot berbagai masalah yang terjadi saat pekerjaan dilakukan PT. Andika Utama”, tambah Efrinal.

Dari kasat mata saja kita sudah bisa melihat bahwa pekerjaan yang dilakukan PT. Andika Utama tidak memenuhi standar kualitas. Pengecoran tiang utama jelas mengalami kebocoran bekisting. Sehingga hasilnya tiang mengalami keropos yang lumayan signifikan diberbagai sisi. Memang mereka memoles lagi menutupi kerutan kerutan akibat air semen yang lepas dari bekisting.

Namun hitungan kekuatannya pasti jauh dari ekspektasi, karena strukturnya sudah tidak satu kesatuan lagi. Ditambah penyambungan tiang antar lantai, banyak yang mengalami pergeseran. Memang besi tersambung dari atas kebawah, tapi jika tiang lantai atas bertumpu tidak pas dengan tiang lantai bawahnya, kemampuan daya tahan bebannya pasti beda. Ini kantor BPBD, seharusnya kekuatan strukturnya menjadi acuan bagi gedung-gedung lain di Sumatera Barat yang merupakan daerah Rawan Gempa”, tutup E St Sulaiman.

Sementara itu, Suryadi, Kuasa Pengguna Anggaran pada pembangunan gedung BPBD Sumbar, ketika dikonfirmasi JMG tentang Pembangunan Gedung BPBD Sumbar ini menyatakan bahwa memang betul, pekerjaan tahap pertama dilaksanakan tahun 2012 yang lalu. Kemudian dilanjutkan tahap dua pada 2018.

Terkait perlakuan penyambungan khusus antara lantai satu yang telah terpapar cuaca selama 5 tahun lebih kepengerjaan struktur lantai 2, Suryadi juga mengakui tidak ada perlakuan khusus untuk betonnya. Cuma sambungan besinya saja yang overlapnya dibikin sepanjang 1 meter.

Namun menurut Suryadi yang akrab dipanggil Os, untuk pengerjaan tahap 2 semua pekerjaan sudah sesuai spesifikasi yang ditentukan. Tentang kualitas pengecoran yang kurang bagus, Suryadi juga mengakui. “ Ini kan baru struktur saja, nanti pada pekerjaan lanjutan finishing nanti, semuanya akan dipoles bersih lagi” ungkap Suryadi. *Tim  

Post a Comment

0 Comments