Ticker

6/recent/ticker-posts

Pupuk Sulit, Petani di Pasaman Menjerit





dutametro.com, (PASAMAN) -- Kelangkaan pupuk bersubsidi  membuat petani di Kabupaten Pasaman menjerit. Untuk mengganti ke pupuk non subsidi petani harus merogoh kocek lebih dalam.

Kelangkaan pupuk mulai dirasakan para petani sejak sebulan terakhir. Pupuk bersubsidi yang disediakan pemerintah hilang dipasaran. Khususnya jenis Urea dan Phonska. 

"Saya mencari di kios disekitar tempat tinggal kosong. Mencari di luar juga sulit, meskipun ada harganya agak mahal. Adanya pupuk non subsidi saja," ungkap Darman (51), petani asal Beringin, Nagari Padanggelugur, Kecamatan Padanggelugur, Kamis (12/12).

"Kesulitan mendapatkan pupuk dirasakan sejak beberapa sebulan inilah. Jenis pupuk yang mengalami kekosongan antara lain Ponska dan Urea," tambah petani lainnya, Halomoan.

Dia menjelaskan untuk mendapatkan pupuk jenis urea dan ponska harus beli non subsidi dengan harga yang cukup tinggi. 

"Ini dapatnya agak mahal. Urea non subsidi saja harga per kilonya Rp7 ribuan. Sementara pupuk bersubsidi cuma Rp1.800 per kilogramnya," kata dia.

Jika terus berlarut kelangkaan pupuk ini bisa mengakibatkan petani mengalami gagal panen nantinya. Sementara petani di wilayah itu saat ini sudah memasuki masa pemupukan pertama. 

"Kini semua petani mengeluh hal yang sama, pupuk langka. Kelangkaan pupuk bisa berakibat gagal panen bagi petani. Ini sudah masuk masa memupuk padi," keluh Laura. 

Sebelumnya keluhan petani ini sudah ditanggapi oleh Wakil Bupati Pasaman, Atos Pratama saat menggelar rapat evaluasi Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3), Senin (3/12/2019) lalu. Disitu, ia tegaskan, kelangkaan pupuk bersubsidi lantaran persediaan terbatas dan kurang dari pengajuan.

"Diakui, penyaluran pupuk bersubsidi ini mempunyai masalah dan kendala lain. Berbagai persoalan, diantaranya ketidaktepatan jumlah dan waktu ketersediaan pupuk, bahkan ada pupuk yang dijual diatas harga HET," ujar Atos. 

Wabup menegaskan, tidak akan segan menindak pengecer pupuk nakal jika terbukti menjual pupuk subsidi diatas HET, apalagi sampai menahan pasokan pupuk ke petani. 

"Siap-siap saja. Pedagang kios nakal jika kedapatan, akan kita tindak tegas. Kalau perlu izinya dicabut untuk memberi efek jera," pungkas Atos. 

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.47 Tahun 2018 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian, ditingkat pengecer resmi, Urea Rp1.800 per Kg, SP-36 Rp2.000 per Kg, ZA Rp1.400 per Kg, NPK Rp2.300 per Kg, Pupuk organik Rp500 per Kg. (*)


Post a Comment

0 Comments