Ticker

6/recent/ticker-posts

ECOPRINT, Textil Alami Dari Dedaunan



dutametro.com (LIMAPULUH KOTA) -- Ecoprint adalah sebuah wajah baru di dunia textil, ramah lingkungan dan sangat sesuai dengan konsep go green secara global. Ecoprint adalah seni mengukir dengan tumbuhan seperti daun, ranting, batang dan akar. Tidak hanya di kain tapi bisa juga di kulit, keramik dan kertas. Teknik melukisnya juga sangat sederhana, meliputi pemukulan, perebusan, pengukusan dan penjemuran. Namun bisa menghasilkan motif yang sangat indah dan natural.
Di pasaran harga ecoprint untuk kain jadi, berbentuk jilbab atau bahan dasar bisa mencapai 120ribu dengan ukuran 120×120 centimeter, menurut penggagas ecoprint di Kabupaten Limapuluh Kota Maslindawati, ecoprint bisa dibuat menjadi pakaian. “Bisa selendang, jilbab, sepatu, tas, juga buku dan hiasan diperalatan keramik. Ecoprint ramah lingkungan dan bahan yang diperlukan ada di sekitar kita,” katanya.
Saat ini ecoprint termasuk limitied edition, untuk membuatnya butuh waktu hingga 10 hari. Penasaran dengan proses pembuatannya? Berikut hasil wawancara dengan Maslindawati, beralamat di Jorong Pintu Koto, Nagari Bukik Limbuku, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Maslindawati menguraikan, “dedaunan yang digunakan bisa ditanam di dalam pot dan lahan kecil disekitar pekarangan rumah. Seperti daun pepaya, daun bayam, daun pokat, daun jarak kepyar, daun ubi ungu, bunga piladang dan bahkan rumput liar dikebun. Pewarnaan pada kain pun menggunakan bahan – bahan yang alami, disebut Zat Warna Alami.
Zat warna alami tersebut bisa didapatkan dari rebusan kulit manggis, kulit jengkol, daun pokat, akar mengkudu dan kayu secang. Maslindawati juga mennguraikan proses – proses cara pembuatan ecoprint, “dimulai dari pemukulan daun ke kain atau disebut dengan treatmen, sebelumya dedaunan yang akan dijadikan motif kain tersebut direndam dengan air cuka.” Katanya.
Ia juga menjelaskan proses selanjutnya, “scouring atau perendaman dengan Turkey Red Oil (TRO), bahan alami TRO tersebut dicampur dengan air hangat. Setelah itu, nama prosesnya ‘mordanting’ atau perebusan dengan menggunakan tawas dan soda ash.” Katanya membuka percakapan.
Setelah melalui dua proses perebusan tersebut, kain tadi dibilas dengan air biasa, kemudian di angin – anginkan (bukan dijemur dengan matahari langsung -red). “Kemudian rendam jenis daun – daun yang diingankan dengan air cuka, supaya daun mudah mengeluarkan zat pewarna (tanin) proses tersebut disebut dengan treatmen.” Lanjutnya.
Jangan lupa siapkan juga rebusan air dengan bahan pewarna alami seperti diatas tadi, “rebus bahan tersebut dengan volume air setengah dari wadah. Setelah itu masuk ke proses ecoprint pouding,” jelasnya.
Ecoprint pouding adalah menyatukan warna dedaunan dengan kain atau media lainnya, tetapi yang terpenting disini adalah ada kepuasan tersendiri bagi Maslindawati untuk membagikan ilmunya, kepada siapa pun yang berminat belajar dirinya mengaku siap menerima kapan pun. Baginya ada kepuasan yang sangat tinggi ketika ilmunya bermanfaat bagi orang lain.
Ketika ditanya pilih penjualan atau mengajarkan ilmu, Maslindawati memilih untuk mengajarkan ilmunya, “kalau Uni yang produksi dan jual sendiri manfaatnya tidak banyak untuk orang lain, sengaja uni kembangkan ecoprint di daerah ini untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” katanya. (dm)

Post a Comment

0 Comments