Ticker

6/recent/ticker-posts

Wako Dan Kapolres Mainkan Tarompa Sayak



dutametro.com, (BUKITTINGGI) --Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias bersama Wakil Walikota Irwandi, Kapolres AKBP Iman Pribadi Santoso, dan Dandim 0304/Agam Letkol Inf Victor Andhyka Tjokro, turut ikut memainkan Tarompa Sayak dan Badia Batuang (Meriam Bambu),  dalam Festival Permainan Anak Nagari Minangkabau yang berlangsung  di lapangan Wirabraja Bukittinggi selama dua hari,  Sabtu (19/10) dan Minggu (20/10).
Festival permainan tradisional yang  berlangsung dengan semarak dan meriah itu, dibuka secara langsung oleh Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias Sabtu (19/10). Kegiatan festival diikuti oleh pelajar se-Bukittinggi dan utusan pelajar dari kabupaten/kota di Sumbar. Dalam kegiatan terlihat antusias masyarakat untuk menyaksikan permainan tradisional Minangkabau yang sudah mulai memudar itu.
Ketua panitia  Iskandar DT. Lelo Kayo mengatakan, festival permainan anak nagari Minangkabau  terselenggara atas dukungan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora)  dan Pemko Bukittinggi. Dalam hal ini, pemerintah pusat telah membuka pintu kepada lembaga adat dan pemerintah daerah  untuk melaksanakan dan menghgidupkan kembali  permainan tradisional kepada anak-anak.
"Kesempatan ini tentunya kita manfaatkan secara maksimal untuk menyelenggarakan festival permainan anak nagari Minangkabau di Bukittinggi. Acara ini didukung dengan dana dari Kemenpora sebesar Rp 75 juta, Pokir Anggota DPRD Bukittinggi atas nama Dedi Fatria melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora)  sebesar Rp 50 juta,  dan juga dana LKAAM Bukittinggi sendiri," ujar Iskandar.
Festival ini ulasnya,  diikuti 61 sekolah dasar dan 19 SMP se Bukittinggi. Tujuannya, untuk lebih mengenalkan permainan anak nagari Minangkabau kepada generasi muda. Festival permainan anak nagari ini dilaksanakan dalam tiga kategori, yakni kategori SD, SMP dan umum se Sumatra Barat. 
Untuk tingkat SD dilaksanakan permainan lore, congkak, tarompa sayak, tangkelek panjang. Untuk kategori SMP, dilaksanakan permainan engrang, galah, kampar dan patok lele. Sedangkan kategori umum se Sumbar, dilaksanakan permainan gasiang. “ Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Bukittinggi, berkeinginan mengenalkan dan menghidupkan kembali permainan tradisional Minangkabau ini kepada anak-anak,” ungkapnya.
Ketua LKAAM Bukittinggi  Syahrizal DT. Palang Gagah menyampaikan, festival permainan anak nagari Minangkabau  dilaksanakan dalam rangka melestarikan adat dan budaya Minangkabau, khusunya terhadap permainan tradisiona.  Kegiatan festival ini membawa kita semua kepada memori masa lalu.
“Melalui festival permainan anak nagari Minangkabau ini,  diharapkan dapat mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda, yang memiliki banyak manfaat dalam membentuk kepribadian mereka. Memang permainan tradisional ini mengajarkan kita banyak hal, sekaligus juga dapat membentuk kepribadian generasi muda yang peduli sesama,  serta bersikap sportif dalam berolahraga," ujar Syahrizal.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias mengapresiasi pelaksanaan festival permainan anak nagari Minangkabau tersebut. Menurutnya,  kegiatan yang dilaksanakan  tentunya menjadi salah satu upaya LKAAM dan juga pemerintah untuk mengantisipasi efek negatif dari perkembangan teknologi saat ini. Ia juga menyampaikan ucapan berterima kasih kepada LKAAM yang ikut memikirkan dan memberikan perhatian terhadap permainan tradisional tersebut.
“Sekarang kehidupan kita diselimuti gadget. Banyak generasi muda yang menghabiskan waktu dengan gadget dan lupa dengan permainan tradisional yang mendekatkan diri mereka dengan lingkungan sekitar. Dengan kegiatan ini, tentunya kita harapkan dapat mengurangi kegiatan generasi muda untuk bermain gadget,  dan mengenalkan generasi muda dengan permainan tradisional Minangkabau," ungkap Ramlan.
Ia juga mengakui, festival yang dilaksanakan sangat positif dan sejalan dengan program pemerintah seperti sekolah keluarga, dalam upaya mempertahankan adat budaya Minangkabau. “Setelah kegiatan festival ini, diharapkan dapat mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda,  sekaligus dapat  memancing mereka untuk membuat permainan tardisional sesuai selera meraka masing masing,” ungkap Ramlan.
Terpisah inisiator Festival permainan anak nagari Minangkabau Dedi Fatria mengatakan, kegiatan ini didukung penuh oleh  Deputi Pembudayaan Olahraga Tradisional Kemenpora RI. Festival ini akan dijadikan magnet agar permainan tradisonal ini dapat digemari lagi oleh genarasi muda, terutama para siswa.
“Teknologi tidak mungkin dilawan, masa lalu juga tidak mungkin dikembalikan. Tapi tugas kita hanya satu, mengenalkan kepada anak cucu kita  bahwa kita memiliki permainan tradisonal, yang merupakan warisan leluhur yang pantas untuk kita lestarikan,” ujar Dedi Fatria yang juga merupakan  anggota DPRD Bukittinggi. (dm)