Ticker

6/recent/ticker-posts

Wagub Sumbar Kunjungi Jepang

Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit melakukan kunjungan ke Kota Sendai, Prefektur Miyagi, Jepang. Dalam lawatan ke Negeri Sakura itu Wagub banyak belajar tentang mitigasi bencana gempa dan tsunami.


dutametro.com (PADANG)  — Sebagai salah satu daerah paling rawan di Indonesia, Sumatera Barat perlu semakin meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami. Untuk itu, demi Sumbar Tangguh Bencana, Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit melakukan kunjungan ke Kota Sendai, Prefektur Miyagi, Jepang.
Kunjungan tersebut dalam rangka mempelajari tata kelola dan sistem penanggulangan gempa bumi dan tsunami yang terapkan oleh kota yang pernah dihantam gempa 9,0 SR dan tsunami pada 2011 lalu itu. Diharapkan, ilmu yang didapat selam berkunjung ke Kota Sendai dapat dibawa pulang dan diterapkan pula di Sumbar.
"Mitigasi dan penanggulangan bencana selalu menjadi prioritas utama Pemprov Sumbar. Banyak hal telah kami lakukan, mulai membangun shelter, mengedukasi masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami, hingga menerbitkan Perda Nomor 6 tentang Bangunan yang Harus Disiapkan Aman dari Gempa. Namun itu saja tentu belum cukup. Untuk itulah kami datang ke Jepang, untuk belajar langsung dari ahlinya," ujar Nasrul Abit kepada Haluan, Sabtu (19/10).
Selain berdiskusi tentang penanganan gempa dan tsunami, Nasrul Abit dan rombongan, yang ditemani Wakil Gubernur Prefecture Miyagi, Fukuchiji juga mengunjungi Arahama Elementary School. Bangunan yang telah beralih fungsi menjadi museum tersebut merupakan satu-satunya bangunan yang tersisa dari hantaman tsunami dahsyat yang melanda kawasan Tohoku pada 2011 lalu.
“Tren penanganan bencana di Jepang saat ini telah berubah dari pencegahan bencana (disaster prevention) menjadi pengurangan resiko bencana (disaster reduction). Nah, hal inilah yang perlu dipelajari Sumbar sehingga tangguh dalam menghadapi bencana,” katanya.
Dari kunjungan tersebut, ujarnya, ada beberapa poin penting yang didapat tentang bagaimana pemerintah Sendai dan Miyagi menghadapi ancaman gempa dan tsunami. Pertama, Pemerintah Kota Sendai merelokasi seluruh pemukiman masyarakat yang berada di pinggir pantai dan berpotensi terkena dampak tsunami ke pemukiman baru yang lebih aman. Kedua, Pantai Sendai yang semula dijadikan objek wisata, pasca gempa dan tsunami melanda, ditutup sama sekali dan dilakukan penghijauan dengan menanam pohon cemara di sepanjang bibir pantai dengan tujuan untuk menahan kecepatan air bila tsunami datang.
"Ketiga, Pemerintah Kota Sendai bersama Pemerintah Prefektur Miyagi dan Pemerintah Pusat membangun sea wall atau dam beton setinggi tujuh meter di sepanjang bibir pantai sebagai penahan laju tsunami. Dam beton tersebut dibangun tiga lapis, dan antara dam pertama dan dam selanjutnya berjarak sekitar satu kilometer," tuturnya.
Keempat, menyiapkan masyarakat tim peduli bencana. Kelima, rutin menggelar kepada masyarakat. Masyarakat diimbau untuk senantiasa waspada, dan jika terjadi gempa terus menerus tanpa henti selama 30 detik, mereka disarankan segera menyelamatkan diri ke shelter atau tempat pengungsian terdekat.
"Ada beberapa poin yang sebenarnya telah kami terapkan di Sumbar. Namun ada juga yang belum, misalnya membangun sea wall. Mungkin nanti akan dipertimbangkan apakah bisa diterapkan juga di Sumbar," ucapnya. (h/mg-dan)