Ticker

6/recent/ticker-posts

Kerugian Perantau Wamena Masih Didata



dutametro.com (PADANG)--Rekening "Sumbar Peduli Sesama" masih menyimpan sekitar Rp3 miliar uang donasi masyarakat yang diperuntukkan bagi perantau asal Sumbar yang jadi korban tragedi Wamena. Pemprov Sumbar mengaku belum menyalurkan bantuan itu karena harus memastikan data kerugian setiap korban. Sementara itu, satu per satu perantau yang pulang pascakerusuhan, mulai kembali ke Papua.
Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, saat menggelar rapat bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait di Kantor Gubernur Sumbar, Kamis (31/10) menyebutkan, masih terdapat ketidaksesuaian antara data yang dimiliki oleh pemerintah daerah dengan data yang dicatat oleh Ikatan Keluarga Minang (IKM) Wamena.
"Datanya belum jelas, sehingga penyalurannya harus diundur dulu. Ada data dari Pemkab Pesisir Selatan, ada juga data dari Sekretaris IKM yang saat ini berada di Pessel. Datanya tidak sinkrong, dan seharusnya itu sama. Jadi jelas," kata Nasrul Abit.
Nasrul Abit pun menyebutkan, pihaknya telah meminta jajaran terkait mulai dari Dinas Sosial (Dinsos), Biro Bina Mental, dan Biro Kerja Sama dan Rantau Provinsi Sumbar, untuk memastikan data riil jumlah kerugian hingga pekan depan, sehingga penyaluran bantuan dapat segera dilakukan.
"Sebab bantuannya tentu beda-beda, ada yang rumah atau tokonya yang terbakar, ada juga yang tidak. Tentu bantuannya dibedakan dan disesuaikan dengan jumlah bantuan yang terkumpul. Lalu, juga diperlukan data lengkap penerima serta nomor rekening agar penyalurannya benar-benar tepat dan jelas," ucapnya lagi.
Selama dibuka, sambung Nasrul Abit, rekening Sumbar Peduli Sesama berhasil menggalang dana hingga Rp6 miliar dari berbagai kalangan di kampung dan di rantau. Hingga kini, sekitar Rp3 miliar dari bantuan itu telah digunakan, termasuk untuk memulangkan perantau asal Sumbar beberapa hari setelah kejadian rusuh di Wamena.
Sementara itu, sebagian perantau asal Sumbar yang pulang setelah kerusuhan tersebut, satu per satu mulai kembali ke ujung Indonesia tersebut. Yussi Osmanelly, yang selama di Wamena bekerja sebagai guru Seni Budaya di SMAN 1 Wamena adalah salah satunya. Ia mengaku kembali ke Wamena karena diminta oleh pihak sekolah dan warga setempat.
"Saya bekerja sebagai guru honorer di SMAN 1 Wamena, dan kebetulan saya adalah satu-satunya Guru Seni Budaya di sana. Jadi, mau tidak mau saya harus kembali ke Wamena," ujar Yussi kepad Haluan, Kamis (31/10).

Ia menyebutkan, memang banyak pihak yang memintanya kembali di Wamena. Mulai dari orang tua angkat, teman-teman di Wamena, Kepala SMAN 1 Wamena, para wali murid, hingga Asisten I Bupati Jayawijaya yang kebetulan berteman dengannya.

Ia mengungkapkan, bahwa ia dan suaminya akan kembali ke Wamena menggunakan dana pribadi. Namu  ia tidak tahu pasti sudah berapara perantau Minang lain telah kembali ke Wamena. "Kalau warga Puncak, Jayawijaya, kabarnya sudah ada yang kembali. Tapi kalau Wamena, saya belum dengar," ucapnya. (vand)

Post a Comment

0 Comments