Ticker

6/recent/ticker-posts

Gempa Beruntun Goyang Mentawai




Pengemudi ojek online (ojol) melintas di samping TES/Shelter gempa dan tsunami di Kawasan Ulak Karang, Kota Padang, Selasa (22/10). Terkait informasi kebencanaan, pemerintah terus mengimbau masyarakat agar rileks dan waspada, serta berpatokan pada informasi resmi BMKG. 


dutametro.com, (MENTAWAI) — Samudera Hindia Pantai Barat Sumatra  diguncang dua kali gempa beruntun bermagnitudo 5,5 dan 5,0 skalarichter (SR), Selasa (22/10). Analisis ahli menunjukkan, gempa terjadi di zona Megathrust Siberut Sipora yang menyimpan potensi gempa hingga 8,9 SR. 

Masyarakat diimbau rileks namun tetap waspada, serta berpatokan pada informasi resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)Informasi resmi BMKG menyebutkan, pusat gempa pertama berkekuatan 5.5 SR mengguncang pantai barat Desa Beriulo, Kecamatan Sipora Selatan, 2,47 Lintang Selatan (LS) dan 99,65 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 18 kilometer. Kemudian disusul gempa berkekuatan serupa di pusat yang sama, dengan jarak 48 km arah Selatan Kota Tuapejat, Kabupaten Mentawai, dengan kedalaman 23 kilometer (km).

Meski tidak berpotensi tsunami, Pakar Gempa yang juga Ketua Ikatan ahli Geologi Indoensia (IAGI) Sumbar, Ade Edward menyebutkan bahwa potensi gempa besar hingga 8.9 SR di masa mendatang tetap masih ada, meski pun terjadi gempa bermagnitudo kecil di zona tersebut.

"Pusat gempa di zona megathrust Siberut Sipora yang merupakan zona berpotensi gempa besar hingga hampir 8,9 SR. Berada pada zona seismic gap Siberut Sipora. Zona pembangkit gempa megathrust yang jarang terjadi gempa, tetapi menyimpan potensi gempa besar di masa mendatang," kata Ade kepada Haluan, Selasa (22/10).

Ade menyebutkan, hingga saat ini belum ada satu pun teknologi yang dapat mengetahui kapan gempa besar itu akan terjadi. Oleh karena itu ia berpesan agar masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan apa pun yang dapat saja terjadi.

"Masyarakat harus tetap membangun dan mempertahankan kewaspadaan. Sementara itu petugas yang terkait dengan pemantauan dan peringatan dini tsunami, juga kami harapkan tetap menjaga kesiapsiagaan," sebutnya lagi.

Senada dengan Ade Edward, Pakar Gempa yang juga akademisi Universitas Andalas, Badrul Mustafa Kemal mengatakan, gempa pada Selasa pagi tersebut memang berada di daerah Megathrust Mentawai. Ia melihat, dari lokasi episenter dan kedalaman pusat gempa pada 23 km di bawah permukaaan laut, maka gempa bumi itu termasuk gempa dangkal. “Bahkan itu terhitung sangat dangkal di kawasan Megathrust Mentawai," kata Badrul.

Megathrust Mentawai sendiri, sambungnya, terbentuk akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang kemudian menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Daerah Megathrust Mentawai merupakan daerah aktif, bahkan sangat aktif gempa bumi.

“Guncangan gempa bumi kali ini dirasakan di daerah Mentawai, II-III MMI (Modified Mercally Intensity). Selain itu juga dirasakan di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan," ucap Badrul lagi.

Namun demikian, menurut analisis Badrul, gempa yang terjadi tersebut belum dapat menentukan memperkecil peluang munculnya gempa besar di Megathrust Segmen Siberut tersebut. "Bukan berarti potensi gempa besar membuat energinya di segmen ini berkurang. Mungkin saja ini fore-shock sebelum muncul gempa besar," ucapnya lagi.

Senada dengan Ade Edward, Badrul juga meminta masyarakat terus rileks, akan tetapi tetap waspada menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Pemerintah juga diharapkan terus mengembangkan dan meningkatkan upaya mitigasi, baik secara struktural maupun non-fisik. "Kesiapsiagaan menghadapi gempa besar itu harus terus dibangun," katanya lagi.

BMKG sendiri telah memastikan, dua kali kejadian gempa di Megathrust Mentawai tersebut tidak berpotensi tsunami. Kepala Seksi (Kasi) Data dan Informasi BMKG Padang Panjang, Ma’muri, turut mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG, yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi. Masyarakat diimbau tetap tenang dan selalu waspada, karena Sumbar pada umumnya memang rawan gempa. Sebagai catatan, bahwa gempa bumi sampai saat ini belum bisa diprediksi, makanya jika ada isu terkait gempa bumi, konfirmasikan kebenarannya kepada BMKG," sebut Ma’muri. (dm)